Kaliandra Dorong Kemandirian Warga Baru Ilir di Lahan Sempit, dari Hidroponik hingga Bank Sampah
Balikpapan, Gerbangkaltim.com – Upaya membangun kemandirian masyarakat di kawasan perkotaan tidak selalu membutuhkan lahan luas maupun modal besar. Melalui program Kampung Baru Ilir Mandiri, Indah, dan Sejahtera (Kaliandra), warga Kelurahan Baru Ilir, Balikpapan Barat, mulai mengembangkan berbagai kegiatan produktif, mulai dari pertanian hidroponik, pengelolaan bank sampah hingga pemberdayaan ekonomi keluarga.
Program yang mendapat dukungan Pertamina Patra Niaga Refinery Unit (RU) V Balikpapan bersama pemerintah kelurahan tersebut diarahkan untuk meningkatkan kualitas lingkungan sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat.
Salah satu kegiatan yang mulai dirasakan manfaatnya adalah budidaya sayuran hidroponik yang dikelola kelompok Program Kampung Iklim (Proklim) Semilir 2 di kawasan Asrama Bukit.
Pengelola Hidroponik Proklim Semilir 2, Tri Wahyuni, mengatakan kegiatan tersebut berawal dari pelatihan yang diikuti warga melalui Balai Latihan Kerja (BLK) sekitar setahun lalu. Setelah memperoleh keterampilan, kelompok kemudian mencoba mengembangkan usaha secara mandiri hingga mendapat dukungan sarana untuk memperluas kegiatan.
“Awalnya dari pelatihan BLK. Setelah itu, sekitar setahun yang lalu, kami mencoba mandiri. Alhamdulillah, sekarang kegiatan hidroponik ini sangat membantu warga, terutama penghuni asrama dan para kader,” kata Tri.
Berbagai jenis sayuran dibudidayakan, di antaranya selada dan pakcoy. Kelompok juga mulai mengembangkan tanaman tomat dan cabai sebagai upaya memperluas jenis komoditas yang dihasilkan.
Selain memenuhi kebutuhan konsumsi warga, hasil panen hidroponik turut memberikan tambahan pendapatan. Sayuran yang dipanen dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan sehari-hari sehingga warga tidak perlu selalu membeli sayur di pasar.
Jika hasil panen berlebih, kelompok memasarkannya kepada konsumen. Salah satu produk yang dijual adalah pakcoy dengan harga Rp10 ribu untuk empat tanaman.
Pemasaran dilakukan melalui penjualan daring. Meski belum berani memasok secara rutin ke supermarket karena keterbatasan kapasitas produksi, kelompok tersebut mengaku sudah memiliki pembeli.
“Dengan hidroponik ini, kami tidak perlu membeli sayur karena bisa memetik sendiri. Kalau hasilnya melimpah, bisa dijual dan menambah pemasukan. Sekali penjualan bisa mendapatkan lebih dari Rp100 ribu, kemudian uangnya kami putar lagi untuk membeli pupuk dan bibit,” ujarnya.
Bank sampah punya 59 nasabah
Selain hidroponik, pengelolaan sampah menjadi kegiatan lain yang dikembangkan warga. Bank Sampah Askit menjadi salah satu wadah bagi masyarakat untuk mengumpulkan sampah anorganik yang masih memiliki nilai jual.
Pengurus Bank Sampah Askit, Ninuk Sukadmi, mengatakan kegiatan tersebut telah berdiri sejak 2015. Namun, pada awal pembentukannya, jumlah warga yang berpartisipasi masih terbatas karena masyarakat masih dalam tahap pengenalan terhadap sistem bank sampah.
Perkembangan mulai terlihat sejak 2018, ketika semakin banyak warga yang bergabung. Saat ini, bank sampah tersebut memiliki sekitar 59 nasabah yang berasal dari lingkungan Askit.
Sampah yang diterima meliputi kardus, botol plastik, berbagai jenis kemasan plastik, kaleng, hingga barang bekas rumah tangga tertentu yang masih dapat dimanfaatkan.
Mekanismenya, nasabah menyetorkan sampah yang telah dikumpulkan. Pengurus kemudian melakukan pemilahan dan menghubungi pengepul ketika jumlah sampah sudah mencukupi untuk diambil.
Dalam satu triwulan, volume sampah yang terkumpul diperkirakan mencapai 150 kilogram. Dari hasil penjualan, bank sampah memperoleh nilai sekitar Rp1,6 juta hingga Rp1,8 juta, bergantung pada jenis dan harga sampah yang dijual.
Hasil penjualan tersebut kemudian dibagikan kepada nasabah dan digunakan untuk mendukung operasional bank sampah.
“Walaupun namanya sampah, orang terkadang menganggapnya sepele. Padahal, kalau dikumpulkan, lumayan juga hasilnya. Sedikit banyak bisa membantu ekonomi warga,” kata Ninuk.
Ia menjelaskan, pendapatan dari penjualan sampah dikembalikan kepada nasabah sebagai bentuk apresiasi atas partisipasi mereka dalam menjaga kebersihan lingkungan.
Dikembangkan ke lima RT
Lurah Baru Ilir, Junaidi, mengatakan Kaliandra merupakan program pemberdayaan masyarakat yang mengintegrasikan sejumlah kegiatan dalam satu kawasan. Program tersebut memiliki tiga kelompok binaan utama, yakni Kelompok Kelurahan Tangguh Bencana (Katana), Wasiat Sejahtera atau Keluarga Siaga Sehat, serta Program Kampung Iklim (Proklim).
Ketiga kelompok tersebut memiliki fokus kegiatan berbeda, mulai dari kesiapsiagaan menghadapi bencana, peningkatan kesehatan keluarga dan pengembangan UMKM, hingga mitigasi serta adaptasi terhadap perubahan iklim.
Menurut Junaidi, konsep Kaliandra sejalan dengan arah pembangunan Pemerintah Kota Balikpapan dalam membentuk kelurahan yang mandiri, adaptif, dan inovatif.
“Program Kaliandra ini sangat sejalan dengan visi dan misi pemerintah kota. Di dalamnya ada tiga kegiatan utama yang berkaitan dengan kesehatan, penanganan stunting, pengelolaan sampah, dan juga UMKM,” ujarnya.
Saat ini, kegiatan Kaliandra di kawasan Askit telah berjalan di dua RT. Pemerintah kelurahan berencana memperluas cakupan program ke tiga RT lainnya sehingga manfaatnya dapat dirasakan lebih banyak warga.
Pengembangan juga mulai dilakukan di wilayah RT 10 dan RT 14 melalui budidaya ikan lele. Bahkan, hasil budidaya tersebut mulai dikembangkan menjadi produk olahan, salah satunya es krim lele.
Junaidi menilai pengembangan kegiatan berbasis potensi masyarakat menjadi salah satu kunci agar program pemberdayaan dapat berjalan berkelanjutan.
Pertamina dorong perluasan manfaat
Area Manager Communication, Relations & CSR RU V Balikpapan, Dodi Yapsenang, menjelaskan program Kaliandra telah berjalan sejak 2022 hingga 2026. Pada tahun ini, program tersebut mengusung tema Better Living in Kaliandra dengan sejumlah fokus, yakni masyarakat aman bencana, lingkungan bersih, masyarakat sehat, serta peningkatan ekonomi berbasis kemasyarakatan.
Selain itu, program juga diarahkan untuk memperluas penerima manfaat melalui replikasi kegiatan yang telah berjalan.
Dodi menjelaskan, pengelolaan sampah organik menjadi kompos merupakan salah satu kegiatan yang terintegrasi dengan program pertanian perkotaan. Kompos yang dihasilkan dimanfaatkan kembali sebagai pupuk untuk tanaman hidroponik, cabai, hortikultura, dan berbagai jenis sayuran.
“Ini merupakan pertanian di tengah kota yang padat penduduk. Karena lahannya terbatas, kita menggunakan sistem hidroponik dan pot sehingga masyarakat tetap bisa bercocok tanam meskipun tidak memiliki lahan yang luas,” jelasnya.
Dari sisi keanggotaan, program Kaliandra yang pada 2022 melibatkan 51 anggota kini berkembang menjadi 93 anggota pada 2026. Cakupan kegiatan juga telah menjangkau 10 RT.
Menurut Dodi, manfaat ekonomi program tersebut tidak hanya berasal dari penjualan hasil panen. Warga juga dapat menghemat pengeluaran rumah tangga karena sebagian kebutuhan sayuran bisa dipenuhi secara mandiri.
“Minimal masyarakat tidak perlu membeli sayur dari luar karena kebutuhannya bisa dipenuhi melalui kelompok ini. Kemudian, kelebihan hasil tanaman hidroponik bisa dijual untuk meningkatkan ekonomi mereka,” katanya.
Ke depan, Pertamina membuka peluang pengembangan program sesuai kebutuhan masyarakat. Bahkan, kegiatan yang telah berjalan di Baru Ilir berpotensi direplikasi ke kelurahan lain di Balikpapan maupun wilayah sekitarnya.
Melalui integrasi ketahanan pangan, pengelolaan sampah, kesehatan, dan pemberdayaan ekonomi, Kaliandra diharapkan tidak hanya menjadi program lingkungan, tetapi juga mendorong terbentuknya masyarakat perkotaan yang lebih mandiri dan berdaya.
BACA JUGA
