Khataman Al-Qur’an di Lapas Banjarmasin, Ruang Sunyi untuk Menata Ulang Diri
Banjarmasin, Gerbangkaltim.com — Suara lantunan ayat suci Al-Qur’an menggema khidmat dari Masjid Baabut Taqwa di lingkungan Lapas Kelas IIA Banjarmasin, Rabu (18/3/2026).
Di balik tembok tinggi lembaga pemasyarakatan, suasana Ramadhan menghadirkan ruang refleksi yang mendalam bagi para warga binaan.
Kegiatan khataman Al-Qur’an yang digelar hari itu bukan sekadar seremoni penutup, melainkan puncak dari proses panjang pembinaan spiritual yang dijalani para santri warga binaan selama bulan suci.
Setiap hari, mereka membaca Al-Qur’an secara berkelompok dengan target satu juz, hingga akhirnya menuntaskan 30 juz.
Di antara kesederhanaan tempat dan keterbatasan yang ada, proses itu menjadi perjalanan sunyi—tentang memperbaiki diri, menata ulang masa depan, dan menumbuhkan harapan baru.
Kepala Lapas Kelas IIA Banjarmasin, Akhmad Herriansyah, yang hadir langsung dalam kegiatan tersebut, mengaku terharu melihat kesungguhan warga binaan dalam mengikuti pembinaan keagamaan.
“Ini bukan hanya tentang khatam Al-Qur’an, tetapi tentang bagaimana mereka berproses menjadi pribadi yang lebih baik. Kami melihat sendiri semangat dan ketekunan itu tumbuh dari hari ke hari,” ujar Herriansyah.
Menurut dia, pembinaan spiritual menjadi salah satu fondasi penting dalam sistem pemasyarakatan. Melalui pendekatan keagamaan, warga binaan diharapkan mampu menemukan kembali arah hidupnya.
“Kami berharap nilai-nilai Al-Qur’an tidak berhenti pada bacaan, tetapi benar-benar diresapi dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari, baik selama menjalani masa pidana maupun setelah kembali ke masyarakat,” katanya.
Senada dengan itu, jajaran pembinaan di Lapas juga menilai kegiatan ini sebagai bagian dari pembentukan karakter. Disiplin, kesabaran, dan konsistensi menjadi nilai yang ditanamkan selama proses berlangsung.
Bagi para warga binaan, momen khataman ini menyimpan makna yang lebih personal. Salah satunya dirasakan oleh DW, yang mengaku menemukan ketenangan selama mengikuti tadarus.
“Saya merasa lebih tenang dan punya harapan. Kegiatan ini mengajarkan saya banyak hal, terutama untuk terus memperbaiki diri,” tuturnya dengan suara lirih.
Khataman Al-Qur’an di Lapas Banjarmasin menjadi pengingat bahwa perubahan bisa tumbuh di mana saja, bahkan di tempat yang kerap dipandang sebagai akhir dari banyak hal. Di ruang-ruang sederhana itu, ayat demi ayat menjadi cahaya yang menuntun langkah, membuka kemungkinan baru untuk kehidupan yang lebih baik di masa depan.
BACA JUGA
