Kreativitas dari Balik Jeruji: Batok Kelapa Disulap Jadi Kerajinan Bernilai Ekonomi di Lapas Banjarmasin

Lapas Banjarmasin
Pelatihan keterampilan membuat kerajinan dari batok kelapa Lapas Kelas IIA Banjarmasin, Senin (2/3/2026).

Banjarmasin, Gerbangkaltim.com — Suara gesekan amplas terdengar bersahut-sahutan di sudut ruang kerja Lapas Kelas IIA Banjarmasin, Sabtu (28/2/2026).

Di atas meja-meja kayu, potongan batok kelapa tersusun rapi, sebagian telah dibentuk menyerupai tas mungil, tempat tisu, hingga aksesori dekoratif. Dari bahan yang kerap dianggap limbah, lahir karya-karya yang sarat nilai fungsi dan estetika.

Di workshop kegiatan kerja (Giatja), warga binaan tampak tekun menyelesaikan setiap tahap produksi. Prosesnya tidak instan. Batok kelapa yang terkumpul dibersihkan lebih dulu, kemudian dipotong mengikuti desain yang telah ditentukan. Setelah itu, permukaan dihaluskan hingga licin sebelum dirangkai menjadi produk siap pakai.

Ketelitian dan kesabaran menjadi kunci utama. Setiap goresan amplas dan setiap lubang kecil untuk menyatukan bagian tas dikerjakan dengan penuh perhatian.

Salah satu warga binaan, Sandi, mengaku menemukan pengalaman baru melalui kegiatan tersebut. Ia tak menyangka batok kelapa dapat diolah menjadi barang bernilai jual.

“Di sini saya membuat aneka tas, tempat tisu, dan lainnya dari batok kelapa. Enjoy saja menjalani kegiatannya. Ini pengalaman baru buat saya, dan baru tahu batok kelapa punya banyak manfaat serta bisa dijadikan kreasi,” ujarnya.
Menurut Kepala Lapas Kelas IIA Banjarmasin, Akhmad Herriansyah, pelatihan keterampilan menjadi bagian penting dari pembinaan.

Ia menilai, kreativitas dapat tumbuh dari hal-hal sederhana apabila diberi ruang dan pendampingan yang tepat.

“Kami ingin warga binaan mampu melihat peluang dari hal-hal yang mungkin selama ini dianggap biasa. Kreativitas dan keterampilan adalah bekal penting untuk masa depan mereka,” kata Akhmad.

Ia menambahkan, pembinaan kemandirian tidak hanya bertujuan mengisi waktu selama menjalani masa pidana, tetapi juga mempersiapkan warga binaan agar memiliki keahlian ketika kembali ke masyarakat.

Senada dengan itu, Kepala Seksi Kegiatan Kerja (Giatja), Bagus Paras Etika, menyebut kerajinan berbahan alami memiliki daya tarik tersendiri di pasar. Selain ramah lingkungan, produk berbahan batok kelapa dinilai memiliki karakter unik karena setiap potongan memiliki motif dan warna berbeda.

“Selain ramah lingkungan, produk berbahan alami seperti ini punya daya tarik tersendiri. Ini menjadi ruang belajar sekaligus membuka peluang usaha bagi warga binaan,” ujarnya.

Bagi para peserta workshop, kegiatan ini bukan sekadar pelatihan teknis. Ia menjadi ruang refleksi sekaligus sarana membangun kembali rasa percaya diri. Dari batok kelapa yang keras dan sederhana, tumbuh karya yang menyimpan harapan baru bahwa setiap orang selalu memiliki kesempatan untuk berproses dan menciptakan nilai, di mana pun berada.

Tinggalkan Komentar