Orangutan Kian Sering Masuk Kampung, Warga Kutim Minta Solusi Cepat

Kutai Timur
Seekor orangutan berada di kawasan perkebunan warga di Desa Tebangan Lembak, Bengalon, Kutai Timur. Masyarakat berharap BKSDA Kalimantan Timur segera menangani meningkatnya konflik manusia dan satwa liar.

Gerbangkaltim.com, Kutai Timur – Konflik antara manusia dan satwa liar kembali menjadi perhatian di Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur. Warga Desa Tebangan Lembak, Kecamatan Bengalon, mengaku semakin resah karena orangutan liar hampir setiap hari memasuki kawasan permukiman dan merusak kebun yang menjadi sumber mata pencaharian masyarakat.

Kemunculan satwa dilindungi tersebut tidak lagi terbatas di kawasan hutan. Dalam beberapa pekan terakhir, orangutan dilaporkan berkeliaran hingga ke pekarangan rumah warga, kebun sawit, kebun pisang, serta lahan pertanian lainnya.

Kondisi tersebut dinilai telah menimbulkan kerugian ekonomi sekaligus mengganggu aktivitas masyarakat yang menggantungkan hidup dari hasil perkebunan.

Tokoh masyarakat Desa Tebangan Lembak, Rahmad Purwanto, mengatakan konflik antara warga dan orangutan sudah berlangsung cukup lama. Namun belakangan intensitas kemunculan satwa itu semakin meningkat sehingga membuat masyarakat khawatir.

“Orangutan sekarang hampir setiap hari masuk ke kebun warga. Pisang habis dimakan, tanaman pertanian rusak, bahkan mereka masuk sampai ke kebun sawit. Warga tentu merasa resah karena kerusakan terus terjadi,” ujarnya, Sabtu (27/6/2026).

Meski demikian, Rahmad menegaskan masyarakat memahami bahwa orangutan merupakan satwa yang dilindungi oleh negara. Karena itu, warga tidak ingin mengambil tindakan yang dapat membahayakan satwa tersebut.

Menurutnya, yang dibutuhkan masyarakat adalah langkah konkret dari pemerintah agar konflik tidak terus berulang dan kedua belah pihak, baik manusia maupun satwa liar, tetap terlindungi.

“Warga tidak ingin menyakiti orangutan karena kami tahu satwa ini dilindungi. Namun kami juga berharap pemerintah segera memberikan solusi agar masyarakat tidak terus mengalami kerugian setiap hari,” katanya.

Selain merusak tanaman pisang yang menjadi sumber pakan favorit orangutan, satwa tersebut juga dilaporkan merusak tanaman pangan lain. Bahkan beberapa individu diketahui mulai membuat sarang di kawasan yang lokasinya semakin dekat dengan permukiman warga.

Melihat kondisi tersebut, masyarakat mendesak Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur segera melakukan penanganan di lapangan.

Warga berharap dilakukan kajian menyeluruh terhadap penyebab meningkatnya konflik, sekaligus mempertimbangkan langkah konservasi yang dinilai aman bagi satwa maupun masyarakat, termasuk apabila diperlukan relokasi ke habitat yang lebih sesuai sesuai ketentuan konservasi.

“Kami berharap BKSDA segera turun tangan. Jika memungkinkan, orangutan dipindahkan ke habitat yang lebih aman sehingga satwanya tetap terlindungi dan masyarakat dapat kembali berkebun dengan tenang,” ujar Rahmad.

Masyarakat berharap penanganan dapat dilakukan secepat mungkin agar konflik manusia dan satwa liar tidak semakin meluas. Selain mengurangi kerugian ekonomi warga, langkah tersebut juga dinilai penting untuk menjaga kelestarian orangutan sebagai satwa endemik yang dilindungi sekaligus mencegah munculnya konflik yang berpotensi membahayakan kedua belah pihak.

Warga juga berharap adanya upaya jangka panjang berupa pengelolaan habitat, edukasi kepada masyarakat, serta koordinasi lintas instansi agar konflik serupa dapat diminimalkan di masa mendatang.

Sumber: Keterangan tokoh masyarakat Desa Tebangan Lembak, Rahmad Purwanto

Tinggalkan Komentar