Pemadaman Listrik Berulang di Sumatera Dinilai Jadi Peringatan Serius bagi Ketahanan Sistem Kelistrikan Nasional

IESR
IESR menilai pemadaman listrik berulang di Sumatera menjadi momentum penting untuk memperkuat ketahanan sistem kelistrikan nasional menghadapi cuaca ekstrem akibat perubahan iklim.

Gerbangkaltim.com, Jakarta – Pemadaman listrik Sumatera yang terjadi berulang dalam beberapa pekan terakhir dinilai menjadi sinyal kuat bahwa Indonesia perlu mengevaluasi ketahanan sistem kelistrikan nasional secara lebih menyeluruh. Institute for Essential Services Reform (IESR) menilai penguatan sistem listrik tidak cukup hanya berorientasi pada keandalan pasokan, tetapi juga harus mampu menghadapi risiko cuaca ekstrem yang semakin sering terjadi akibat perubahan iklim.

Dalam keterangan resminya, Kamis (26/6/2026), IESR menyebut dua gangguan besar yang terjadi di Sumatera sepanjang Juni 2026 menjadi pelajaran penting bagi pengembangan infrastruktur kelistrikan nasional.

Berdasarkan penjelasan PT PLN (Persero), gangguan pertama dipicu cuaca ekstrem yang menyebabkan dua sirkuit transmisi 500 kilovolt (kV) di koridor timur mengalami trip. Kondisi tersebut mengalihkan aliran daya ke jaringan 275 kV di koridor barat hingga memicu osilasi tegangan dan frekuensi.

Untuk mencegah gangguan yang lebih luas, sistem kelistrikan Sumatera kemudian dipisahkan menjadi dua wilayah operasi, yakni Sumatera Utara dan Sumatera Selatan. Saat itu, wilayah utara mengalami kekurangan pasokan listrik sehingga sejumlah pembangkit terpaksa berhenti beroperasi dan memicu pemadaman. Sementara wilayah selatan tetap mampu mempertahankan stabilitas pasokan.

Gangguan serupa kembali terjadi pada 4 Juni 2026 ketika 12 menara transmisi PLN dilaporkan roboh maupun mengalami kerusakan akibat dugaan hujan lebat disertai angin kencang. Kerusakan terjadi pada jalur Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) 275 kV Galang–Simangkuk serta Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) 150 kV Tebing Tinggi–Sei Rotan, sehingga mengganggu pasokan listrik di sejumlah wilayah Sumatera.

Direktur Program Transformasi Sistem Energi IESR, Deon Arinaldo, mengatakan peristiwa tersebut menunjukkan bahwa evaluasi sistem kelistrikan Indonesia harus mencakup dua aspek utama, yakni keandalan (reliability) dan ketahanan (resilience).

Menurutnya, keandalan berkaitan dengan kemampuan sistem menyediakan listrik secara stabil dalam kondisi normal, sedangkan ketahanan mengacu pada kemampuan jaringan listrik untuk bertahan, merespons, dan pulih setelah menghadapi gangguan besar seperti badai, banjir, angin kencang, maupun cuaca ekstrem lainnya.

“Pemadaman listrik di Sumatera menunjukkan bahwa sistem kelistrikan nasional perlu dievaluasi secara lebih komprehensif. Tantangannya bukan hanya menjaga pasokan listrik tetap andal, tetapi juga memastikan seluruh infrastruktur mampu bertahan menghadapi cuaca ekstrem yang semakin sering terjadi,” ujar Deon.

IESR menilai risiko tersebut semakin meningkat seiring dampak perubahan iklim global. Mengacu pada data World Meteorological Organization (WMO), periode 2023–2025 tercatat sebagai tiga tahun terpanas dalam sejarah pengamatan modern dengan rata-rata suhu global mencapai 1,48 derajat Celsius di atas tingkat praindustri.

Sementara itu, data Informasi Bencana Indonesia (DIBI) milik BNPB menunjukkan bencana hidrometeorologi seperti banjir, cuaca ekstrem, dan tanah longsor terus mendominasi kejadian bencana nasional.

Dalam periode 2021–2025, tercatat hampir 18 ribu kejadian bencana terkait cuaca ekstrem atau rata-rata sekitar 3.600 kejadian setiap tahun. Jumlah tersebut meningkat tajam dibanding periode 2011–2015 yang mencatat sekitar 7.700 kejadian atau rata-rata 1.500 kejadian per tahun.

Menurut IESR, dampak perubahan iklim terhadap sektor ketenagalistrikan tidak hanya berupa kerusakan fisik seperti robohnya menara transmisi, tetapi juga dapat menurunkan efisiensi pembangkit, meningkatkan biaya perawatan, mengganggu jaringan distribusi, hingga memperbesar risiko pemadaman listrik dalam jangka panjang.

Karena itu, lembaga tersebut mendorong pemerintah menjadikan ketahanan sistem kelistrikan sebagai prioritas dalam perencanaan energi nasional. Langkah tersebut meliputi evaluasi jaringan transmisi dan distribusi, pemetaan wilayah rawan bencana, peningkatan standar desain infrastruktur, pemanfaatan teknologi pemantauan modern, percepatan modernisasi jaringan listrik, serta integrasi energi terbarukan dan sistem penyimpanan energi.

IESR menegaskan bahwa infrastruktur listrik yang dibangun saat ini harus dirancang berdasarkan proyeksi risiko iklim di masa depan, bukan hanya mengacu pada pola cuaca historis, agar kejadian serupa tidak kembali terjadi di berbagai wilayah Indonesia.


Sumber: Institute for Essential Services Reform (IESR)

Tinggalkan Komentar