Serdik Sespimti Dikreg 36 Kenalkan X-Fire, Formula Pemadam Karhutla Berbasis Bahan Sederhana

Polda Kaltim
Widyaiswara Kepolisian Utama Tingkat I Sespim Lemdiklat Polri, Irjen Pol Joko Setiono didampingi Ketua Senat Serdik Sespimti Angkatan 36, Kombes Pol Donny Alexander saat menjelaskan penggunaan X-Fire, Selasa (15/9/2026).

Balikpapan, Gerbangkaltim.com — Peserta Didik Sekolah Staf dan Pimpinan Tinggi (Sespimti) Polri Dikreg ke-36 memperkenalkan penerapan X-Fire sebagai salah satu inovasi untuk mendukung penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Timur.

Penerapan teknologi pemadam tersebut dilakukan dalam rangkaian Praktik Kerja Dalam Negeri (PKDN) bersama personel Brimob. Kegiatan ini sekaligus menjadi kesempatan bagi para Serdik untuk melihat secara langsung proses pembuatan hingga penggunaan X-Fire dalam penanganan kebakaran.

Widyaiswara Kepolisian Utama Tingkat I Sespim Lemdiklat Polri, Irjen Pol Joko Setiono, mengatakan X-Fire merupakan inovasi yang dikembangkan Mabes Polri sebagai bagian dari upaya mitigasi karhutla.

“Hari ini kami selaku pendamping Serdik Sespimti Angkatan 36 melaksanakan kegiatan di Kodam. Kami mencoba inovasi dari Mabes Polri, X-Fire, sebagai inovasi baru dalam rangka mitigasi kebakaran hutan,” kata Joko.

Menurut dia, kegiatan tersebut tidak hanya berorientasi pada penggunaan X-Fire, tetapi juga mempelajari tahapan pembuatan formula tersebut dari bahan awal hingga siap digunakan.

“Di Kaltim ini kita mencoba melihat bagaimana proses membuat bahan-bahan yang sudah dikirim ke Kaltim, dari mulai awal bahan-bahan hingga ini bisa digunakan,” ujarnya.

Pengetahuan mengenai proses pembuatan dinilai penting agar personel di daerah memiliki kesiapan apabila X-Fire sewaktu-waktu dibutuhkan untuk penanganan karhutla.
Dengan demikian, personel tidak hanya mengetahui cara menggunakan bahan pemadam tersebut, tetapi juga memahami proses persiapannya sehingga dapat segera dimanfaatkan dalam kondisi darurat.

Ketua Senat Serdik Sespimti Angkatan 36, Kombes Pol Donny Alexander, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya mitigasi sekaligus pembelajaran bagi para peserta didik dalam menghadapi ancaman karhutla.

“Melalui PKDN, para Serdik kita dorong tidak hanya mampu mengidentifikasi persoalan, tetapi juga mencari alternatif solusinya. Karhutla harus dijawab dengan kolaborasi, kesiapan operasional, dan inovasi teknologi,” kata Donny.

Ia mengatakan X-Fire dipandang sebagai salah satu alternatif yang perlu dikaji dan disiapkan untuk menghadapi potensi karhutla.

“Penerapan X-Fire ini menjadi salah satu upaya untuk melihat bagaimana inovasi dapat dikembangkan dalam mendukung penanganan karhutla yang semakin efektif,” ujarnya.

Dalam kegiatan tersebut, para Serdik juga mempelajari bahan dasar yang digunakan untuk membuat X-Fire. Formula tersebut memanfaatkan campuran bahan yang bersifat limbah yang kemudian diproses hingga memiliki bentuk menyerupai gel dan dicampurkan dengan tepung tapioka.

Campuran tersebut kemudian disiapkan sebagai bahan pemadam yang dapat diaplikasikan pada titik api. Penggunaan bahan ini diarahkan untuk membantu air bekerja lebih efektif ketika digunakan untuk memadamkan kebakaran.

Di lapangan, X-Fire diterapkan untuk melihat kemampuannya dalam menjangkau material yang terbakar, menurunkan temperatur, mempercepat proses pemadaman, serta menekan kemungkinan api kembali menyala.

Teknologi tersebut juga dinilai relevan untuk penanganan kebakaran di lahan gambut. Sebab, api pada lahan gambut tidak hanya membakar permukaan, tetapi dapat merambat ke lapisan bawah dan tetap menimbulkan asap meski api di permukaan telah padam.

“Teknologi ini menurut kami sangat baik sekali karena kami sudah melihat langsung dampak dari proses pemadaman api. X-Fire dapat langsung diarahkan pada titik api dan membantu mendinginkan api, khususnya di daerah lahan gambut,” kata Donny.

Dalam penerapannya, X-Fire juga dibandingkan dengan penggunaan air biasa dan bahan pemadam lainnya. Perbandingan tersebut dilakukan untuk melihat karakteristik dan efektivitas masing-masing bahan ketika digunakan di lapangan.

Bagi Serdik, praktik tersebut menjadi bagian penting dari pembelajaran karena penanganan karhutla tidak cukup hanya dilakukan melalui pendekatan kebijakan dan manajemen.

Pengalaman langsung di lapangan memberikan gambaran mengenai kebutuhan operasional, kesiapan personel, ketersediaan bahan pemadam, hingga pemanfaatan teknologi sederhana yang dapat dikembangkan untuk menghadapi karhutla.

Donny menambahkan, penyediaan X-Fire juga menjadi bagian dari langkah kesiapsiagaan menghadapi kemungkinan terjadinya karhutla.

“Kita menyiapkan beberapa stok X-Fire sebagai salah satu upaya pencegahan dan kesiapan apabila nantinya terjadi force majeure ataupun kebakaran hutan dan lahan,” katanya.

Penerapan inovasi tersebut dinilai memiliki nilai strategis bagi Kalimantan Timur, terutama dalam memperkuat kesiapsiagaan menghadapi karhutla yang berpotensi mengancam kawasan permukiman, hutan, lahan gambut, hingga kawasan strategis Ibu Kota Nusantara.

Melalui PKDN, para Serdik Sespimti Dikreg ke-36 tidak hanya mengkaji karhutla sebagai persoalan keamanan dan lingkungan, tetapi juga melihat secara langsung bagaimana inovasi teknologi dapat diterapkan sebagai bagian dari strategi pencegahan dan penanggulangan bencana.

Tinggalkan Komentar