Warga Binaan Lapas Banjarmasin Asah Kesabaran Lewat Jahitan Sasirangan

Lapas Banjarmasin
WBP Lapas Kelas IIA Banjarmasin saat membuat kerajinan kain sasirangan khas Kalimantan Selatan, Senin (2/3/2026).

Banjarmasin, Gerbangkaltim.com — Deretan kain bermotif khas Kalimantan Selatan tampak terbentang rapi di sebuah ruangan kerja di Lapas Kelas IIA Banjarmasin, Senin (2/3/2026).

Jarum dan benang bergerak perlahan di tangan para warga binaan, menyusuri pola yang telah digambar di atas kain. Tahap itu dikenal sebagai penjulujuran—proses penting dalam pembuatan sasirangan sebelum kain memasuki tahap pewarnaan.

Penjulujuran dilakukan dengan teknik jahit jelujur mengikuti garis motif. Jahitan ini nantinya akan ditarik dan diikat untuk membentuk pola khas sasirangan saat proses pencelupan warna. Ketelitian menjadi kunci, sebab kesalahan kecil dapat mengubah bentuk motif yang direncanakan.

Salah seorang warga binaan mengaku proses tersebut melatih kesabaran dan fokusnya.

“Menjulujur itu tidak bisa terburu-buru. Kalau jaraknya tidak konsisten, motifnya bisa berbeda. Di sini saya belajar untuk lebih sabar dan teliti,” ujarnya pelan sambil terus merapikan jahitan.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program pembinaan kemandirian yang rutin dilaksanakan di dalam lapas. Selain membekali keterampilan teknis, prosesnya juga dirancang untuk menanamkan nilai disiplin dan tanggung jawab.

Kepala Lapas Kelas IIA Banjarmasin, Akhmad Herriansyah menuturkan, pembinaan melalui kerajinan sasirangan tidak sekadar berorientasi pada hasil produk.

“Kami ingin warga binaan memahami bahwa setiap karya yang baik lahir dari proses yang tekun. Dari jahitan-jahitan kecil inilah mereka belajar konsistensi, kesabaran, dan tanggung jawab,” katanya.

Menurutnya, sasirangan sebagai warisan budaya Kalimantan Selatan memiliki nilai sejarah dan identitas daerah yang kuat. Karena itu, kualitas pengerjaan menjadi perhatian utama.

“Kami tidak hanya mengajarkan cara membuat kain bermotif, tetapi juga menanamkan kebanggaan terhadap budaya sendiri. Harapannya, keterampilan ini bisa menjadi bekal saat mereka kembali ke masyarakat,” tambahnya.

Di ruangan itu, suara gesekan benang dengan kain terdengar berirama. Tidak ada yang terburu-buru. Setiap tusukan jarum menjadi latihan ketelitian, setiap tarikan benang menjadi pengingat bahwa perubahan besar kerap dimulai dari hal-hal kecil yang dikerjakan dengan kesungguhan.

Bagi para warga binaan, penjulujuran bukan hanya tahap produksi. Ia menjelma menjadi ruang belajar tentang sabar, tentang presisi, dan tentang menata kembali masa depan—satu jahitan dalam satu waktu.

Tinggalkan Komentar