Warga Binaan Lapas Banjarmasin Asah Keterampilan, Produksi Kitchen Set untuk Pesanan Masyarakat
Banjarmasin, Gerbangkaltim.com — Suara mesin potong kayu berpadu dengan aroma serbuk yang khas memenuhi Workshop Giatja di Lapas Kelas IIA Banjarmasin, Senin (2/3).
Di ruangan itulah sejumlah warga binaan tampak serius mengerjakan pesanan kitchen set, mulai dari tahap pengukuran hingga perakitan rangka.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari program pembinaan kemandirian yang dirancang untuk membekali warga binaan dengan keterampilan praktis dan pengalaman kerja nyata.
Kitchen set yang diproduksi bukan sekadar proyek latihan, melainkan pesanan dari masyarakat, sehingga proses pengerjaannya menuntut ketelitian dan tanggung jawab.
Tahap pengerjaan diawali dengan pengukuran desain sesuai spesifikasi pemesan. Setelah itu, bahan dipotong dan dirakit menjadi rangka utama sebelum memasuki proses finishing. Setiap detail diperhatikan agar hasil akhir memenuhi standar kualitas.
Kepala Seksi Kegiatan Kerja (Kasi Giatja) Lapas Kelas IIA Banjarmasin, Bagus Paras Etika mengatakan, produksi berbasis pesanan menjadi metode pembelajaran yang efektif.
“Karena ini merupakan pesanan, warga binaan belajar bekerja sesuai target, menjaga kualitas, serta memahami pentingnya komitmen terhadap hasil pekerjaan,” ujar Bagus.
Menurut dia, model kerja seperti ini membantu warga binaan memahami ritme dunia kerja yang sesungguhnya, termasuk manajemen waktu dan kerja sama tim.
Salah satu warga binaan berinisial AI mengaku merasakan manfaat langsung dari kegiatan tersebut. Ia menilai keterampilan pertukangan yang diperoleh dapat menjadi bekal ketika kembali ke masyarakat.
“Kegiatan ini sangat bermanfaat karena memberikan keterampilan nyata yang bisa digunakan sebagai modal usaha setelah bebas nanti. Saya juga belajar tentang ketelitian, kerja sama tim, dan tanggung jawab terhadap hasil pekerjaan,” tuturnya.
Sementara itu, Kepala Lapas Kelas IIA Banjarmasin, Akhmad Herriansyah, menegaskan bahwa pembinaan kerja yang produktif dan bernilai ekonomis merupakan bagian penting dalam proses pemasyarakatan.
“Kami terus mendorong kegiatan kerja yang tidak hanya melatih keterampilan, tetapi juga memberikan pengalaman kerja nyata. Harapannya, warga binaan memiliki kesiapan mental dan kemampuan saat kembali ke masyarakat,” kata Akhmad.
Ia menambahkan, kegiatan seperti produksi kitchen set menunjukkan bahwa lembaga pemasyarakatan bukan semata tempat menjalani masa pidana, tetapi juga ruang pembinaan yang membuka peluang perubahan.
Melalui Workshop Giatja, keterampilan pertukangan tidak hanya menjadi aktivitas rutin, melainkan jembatan menuju kemandirian. Dari setiap potongan kayu yang dirakit, tumbuh harapan baru—bahwa kesempatan kedua dapat dimulai dari ruang kerja sederhana di balik tembok lapas.
BACA JUGA
