13 Tahun Mengabdi, Relawan Info Bencana Balikpapan Bergerak karena Getaran Hati
Balikpapan, Gerbangkaltim.com — Menjadi relawan bukan perkara mendapatkan gaji atau keuntungan. Bagi Ketua Harian Relawan Info Bencana Kota Balikpapan, Ruslan, pengabdian selama 13 tahun di dunia kemanusiaan berawal dari sesuatu yang sederhana: getaran hati.
Ruslan yang akrab disapa IB07 mengatakan, dirinya bersama relawan Info Bencana memilih tetap bergerak setiap kali terjadi keadaan darurat di Kota Balikpapan. Mereka turun ke lapangan untuk membantu pemerintah dan masyarakat tanpa mengharapkan imbalan.
“Kita bergerak dari getaran hati, dari lubuk nurani yang paling dalam. Kita tulus dengan getaran hati untuk membantu pemerintah, salah satunya kalau ada peristiwa atau apa saja yang menyangkut emergensi di Kota Balikpapan, kami bergerak,” ujar Ruslan, Jum’at (2/10/2026).
Menurut dia, selama 13 tahun menjalankan aktivitas kemanusiaan, para relawan tidak pernah menerima gaji. Mereka juga tidak menjadikan bantuan sebagai sesuatu yang harus diminta.
“Selama ini kita tidak pernah digaji dan tidak pernah untuk meminta gaji,” katanya.
Ruslan menuturkan, bantuan yang selama ini diterima justru datang dari berbagai pihak secara sukarela. Bentuknya pun lebih banyak berupa peralatan penunjang kegiatan di lapangan, bukan uang.
Mulai dari mobil pick up, radio komunikasi atau HT, hingga jaket relawan menjadi bagian dari dukungan yang diterima kelompok tersebut.
“Kita tidak pernah selama 13 tahun ini menyorongkan proposal untuk meminta sumbangan, kita tidak pernah. Dan sumbangan itu sendiri datang sendirinya, berupa mobil pickup, radio HT, berupa jaket, dan tidak berupa uang,” ujar Ruslan.
Peralatan tersebut kemudian digunakan untuk mendukung aktivitas relawan ketika berada di lapangan.
Di tengah besarnya tantangan kebencanaan di Balikpapan, jumlah relawan yang benar-benar aktif ternyata tidak banyak.
Ruslan menyebut, grup komunikasi Info Bencana Kota Balikpapan saat ini memiliki sekitar 1.024 anggota. Namun, relawan yang aktif dan memiliki kartu tanda anggota (KTA) hanya 12 orang.
“Member grup ini ada 1.024 member, tapi sebenarnya relawan yang aktif itu hanya 12 orang, 12 orang anggota Info Bencana Kota Balikpapan yang memiliki KTA. Dan inilah yang bergerak, 12 orang ini,” katanya.
Meski hanya 12 orang, mereka menjalankan koordinasi kebencanaan dengan konsep one gate atau satu pintu. Koordinasi dilakukan bersama berbagai unsur, mulai dari TNI, Polri, BPBD, Basarnas, perangkat RT, relawan hingga masyarakat.
Ruslan mengatakan, pola koordinasi tersebut dibangun agar informasi mengenai kejadian bencana dapat diterima dan ditindaklanjuti secara cepat.
“Kita koordinasi dalam satu platform media sosial WhatsApp. Kita berkoordinasi di situ untuk bersama-sama menanggulangi bencana dan mitigasi bencana agar bencana itu tidak terlalu besar dan bisa ditangani dengan cepat dan tanggap,” ujarnya.
Menurut Ruslan, semangat mempertahankan pengabdian selama 13 tahun juga tidak terlepas dari dukungan sesama relawan.
Ia mengaku sejumlah rekannya justru mendorong agar kegiatan kemanusiaan tersebut terus dipertahankan selama mereka masih mampu berkontribusi.
“Ketua, kalau bisa kita bertahan saja sampai titik perjuangan kita, sampai kita ini diambil Tuhan,” kata Ruslan menirukan pesan rekan-rekannya.
Tahun 2026 menjadi salah satu periode ketika aktivitas kebencanaan di Balikpapan cukup tinggi. Ancaman kebakaran lahan dan berbagai kejadian darurat membuat keberadaan relawan tetap dibutuhkan.
Ruslan mengatakan, dalam berbagai penanganan bencana, relawan Info Bencana berupaya hadir membantu BPBD, TNI dan Polri, pemerintah kota maupun masyarakat.
“Dalam bentuk kebencanaan, IB07 selalu ada di lapangan,” tegasnya.
Bagi Ruslan, menjadi relawan bukan tentang seberapa besar keuntungan yang bisa diperoleh. Pengabdian justru dijalankan karena rasa memiliki terhadap kota tempat mereka hidup.
“Kita 12 orang ini bergetar hatinya untuk Kota Balikpapan tercinta agar Kota Balikpapan ini aman, tenteram, nyaman, kondusif dan tidak ada bencana yang terjadi terlalu besar di kota ini,” katanya.
Ia menyadari tidak ada seorang pun yang tahu di mana kelak akan mengakhiri hidup. Namun, selama masih diberi kesempatan, ia memilih menggunakan waktunya untuk membantu sesama.
“Kita tidak tahu nantinya kota ini kedepannya, namun tetap bergerak dengan getaran hati untuk kota Balikpapan tercinta,” ujar Ruslan.
Semangat tersebut pula yang membuat para relawan tetap bertahan meski kondisi ekonomi belum sepenuhnya stabil.
Ruslan menegaskan, mereka tidak menjadikan kegiatan kemanusiaan sebagai jalan untuk mencari keuntungan pribadi.
“Kita masih bertahan tanpa kita memikirkan sesuatu yang menguntungkan. Dan kita lebih mengedepankan perikemanusiaan dan perikeadilan, membantu masyarakat dengan terus ikhlas,” tuturnya.
Bagi Ruslan dan 11 relawan aktif lainnya, getaran hati itulah yang menjadi tenaga untuk terus bergerak.
Bukan gaji yang dicari. Bukan pula penghargaan yang menjadi tujuan.
Selama masih ada keadaan darurat yang membutuhkan pertolongan, mereka memilih tetap berada di lapangan atas dorongan nurani untuk sesama dan kota yang mereka cintai.
BACA JUGA
