Danantara Siapkan Rp1 Triliun Bangun Peternakan Modern di Kaltim

danantara kaltim
Pemerintah bersama DPKH Kaltim melakukan persiapan pembangunan industri hilirisasi ayam petelur terintegrasi di Kalimantan Timur untuk memperkuat ketahanan pangan daerah.

Gerbangkaltim.com, Samarinda – Pemerintah pusat melalui Danantara mulai memetakan langkah besar untuk memperkuat ketahanan pangan di Kalimantan Timur. Salah satu sektor yang kini menjadi perhatian serius adalah ketersediaan telur dan daging ayam yang selama ini masih bergantung pada pasokan dari luar daerah.

Melalui investasi senilai lebih dari Rp1 triliun, pemerintah berencana membangun 14 unit industri hilirisasi ayam petelur terintegrasi di Kalimantan Timur. Proyek tersebut diproyeksikan menjadi pusat peternakan modern yang menghubungkan seluruh rantai produksi, mulai dari pembibitan hingga pengolahan hasil ternak.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (DPKH) Kalimantan Timur, Fadli Sufiani, mengatakan kebutuhan telur masyarakat Kaltim saat ini belum sepenuhnya mampu dipenuhi produksi lokal.

“Produksi telur di Kalimantan Timur baru sekitar 40 persen dari total kebutuhan masyarakat. Sisanya masih dipasok dari luar daerah,” ujar Fadli dalam keterangannya, Jumat (29/5/2026).

Menurutnya, program yang didukung Danantara tersebut menjadi langkah strategis pemerintah dalam memperkuat kemandirian pangan daerah, terutama menghadapi meningkatnya kebutuhan konsumsi masyarakat seiring pertumbuhan kawasan penyangga Ibu Kota Nusantara (IKN).

Ia menjelaskan, 14 unit industri yang akan dibangun nantinya terdiri atas satu unit kandang parent stock atau pusat pembibitan ayam petelur lengkap dengan fasilitas penetasan telur, empat unit kandang pembesaran ayam petelur, serta enam rumah potong unggas modern.

Selain itu, pemerintah juga menyiapkan pembangunan pabrik pakan ternak, fasilitas pengolahan daging ayam, dan unit pengolahan telur untuk mendukung sistem industri peternakan yang terintegrasi dari hulu hingga hilir.

Fadli menilai keberadaan kawasan industri peternakan tersebut akan menjadi solusi jangka panjang dalam menjaga stabilitas pasokan pangan di Kalimantan Timur, terutama untuk mendukung Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang terus diperluas pemerintah.

Berdasarkan data DPKH Kaltim, kebutuhan telur untuk mendukung 372 Satuan Pelayanan Program Gizi (SPPG) di daerah tersebut diperkirakan mencapai hampir 2,2 juta butir per minggu.

Sementara kebutuhan daging ayam juga terbilang besar. Dalam sekali pelaksanaan makan serentak, kebutuhan daging ayam mencapai sekitar 169 ton atau sekitar 338 ton per minggu.

“Program ini menjadi bagian penting untuk memastikan kebutuhan protein hewani masyarakat, khususnya anak-anak sekolah, dapat terpenuhi secara berkelanjutan,” katanya.

Meski kebutuhan telur masih bergantung dari luar daerah, Fadli menyebut produksi ayam potong di Kalimantan Timur saat ini sudah berada dalam kondisi surplus. Kondisi tersebut didukung keberadaan perusahaan swasta besar seperti Charoen Pokphand dan Japfa Comfeed yang telah lama beroperasi di wilayah Kaltim.

Saat ini, DPKH Kaltim bersama tim terpadu pemerintah pusat masih melakukan survei terhadap sejumlah lahan potensial yang akan digunakan untuk pembangunan kawasan industri peternakan tersebut.

Lokasi pembangunan diwajibkan memenuhi sejumlah persyaratan teknis, di antaranya berada jauh dari permukiman warga dan tidak berdekatan dengan peternakan komoditas lain guna menjaga standar kesehatan hewan dan sistem biosekuriti.

Pemerintah berharap proyek hilirisasi ayam petelur ini tidak hanya memperkuat ketahanan pangan daerah, tetapi juga membuka peluang investasi, menciptakan lapangan kerja baru, serta mendorong pertumbuhan ekonomi di Kalimantan Timur.

Tinggalkan Komentar