Dari Balik Jeruji, Selada Tumbuh: Langkah Kecil Menuju Kemandirian di Lapas Banjarmasin

Lapas Banjarmasin
Kepala Lapas Kelas IIA Banjarmasin, Akhmad Herriansyah saat turun langsung saat memindahkan bibit selada dari media tanam rockwool ke dalam netpot, Selasa (24/3/2026).

Banjarmasin, Gerbangkaltim.com — Di sudut Area SAE 2 Lapas Kelas IIA Banjarmasin, sejumlah warga binaan dengan teliti memindahkan bibit selada dari media tanam rockwool ke dalam netpot, dimana kegiatan ini adalah bagian dari instalasi hidroponik yang mulai dikembangkan sebagai sarana pembinaan kemandirian.

Sebanyak 128 bibit selada yang sebelumnya telah melalui tahap persemaian kini memasuki fase penting dalam proses pertumbuhannya. Dengan tangan-tangan yang dahulu mungkin jauh dari dunia pertanian, para warga binaan kini belajar memahami ritme baru merawat, menunggu, dan berharap pada hasil yang tumbuh perlahan.

Kegiatan ini bukan sekadar memindahkan tanaman, melainkan bagian dari upaya membangun keterampilan produktif di dalam lapas. Program hidroponik menjadi salah satu pendekatan yang dinilai relevan, terutama karena dapat dilakukan di lahan terbatas dengan hasil yang menjanjikan.

Kepala Lapas Kelas IIA Banjarmasin, Akhmad Herriansyah, yang turut meninjau kegiatan tersebut, mengatakan bahwa pembinaan berbasis keterampilan terus dikembangkan agar memberikan manfaat nyata bagi warga binaan.

“Kami ingin memastikan bahwa setiap program yang dijalankan di dalam lapas tidak hanya bersifat kegiatan semata, tetapi benar-benar memberi bekal yang bisa dimanfaatkan setelah mereka kembali ke masyarakat,” ujar Herriansyah, Selasa (24/3/2026).

Menurut dia, hidroponik dipilih karena relatif mudah dipelajari dan memiliki nilai ekonomis. Selain itu, prosesnya juga mengajarkan kedisiplinan dan tanggung jawab.

Hal senada disampaikan Kepala Seksi Kegiatan Kerja, Bagus Paras Etika. Ia menjelaskan bahwa proses pemindahan bibit ke instalasi hidroponik merupakan tahapan krusial dalam memastikan tanaman dapat tumbuh optimal hingga masa panen.

“Ini bagian dari siklus produksi yang sedang kami bangun. Harapannya, kegiatan ini tidak berhenti di sini, tetapi terus berkembang dan menghasilkan produk yang bisa dimanfaatkan,” kata Bagus.

Bagi para warga binaan, pengalaman ini menghadirkan makna tersendiri. Salah seorang di antaranya mengaku merasa bangga dapat terlibat langsung dalam proses bercocok tanam modern tersebut.

“Dari awal kami ikut, mulai dari penyemaian sampai sekarang dipindahkan ke instalasi. Rasanya senang melihat tanaman tumbuh. Ada kepuasan tersendiri,” ujarnya.

Di balik dinding tinggi dan pengamanan ketat, kegiatan sederhana ini menjadi simbol perubahan. Dari potongan kecil rockwool ke sistem hidroponik yang lebih modern, tersimpan harapan bahwa keterampilan yang tumbuh hari ini dapat menjadi bekal untuk kehidupan yang lebih mandiri di masa depan.

Tinggalkan Komentar