Fenomena Hujan Tak Merata di Balikpapan, BMKG Ungkap Pengaruh Faktor Atmosfer Lokal

hujan tidak merata Balikpapan
Kantor BMKG Balikpapan yang memberikan penjelasan ilmiah terkait fenomena hujan tidak merata akibat dinamika atmosfer lokal di wilayah setempat.

Gerbangkaltim.com, Balikpapan — Perbedaan cuaca ekstrem dalam satu wilayah kembali terjadi di Kota Balikpapan. Pada Minggu (5/4/2026), hujan deras mengguyur kawasan Balikpapan Selatan hingga memicu genangan air, sementara di waktu yang sama Balikpapan Timur justru mengalami cuaca cerah dengan paparan sinar matahari yang cukup terik.

Fenomena ini memunculkan pertanyaan di tengah masyarakat terkait penyebab perbedaan kondisi cuaca yang terjadi dalam satu kota. Menanggapi hal tersebut, pihak BMKG melalui Stasiun Meteorologi Kelas I SAMS Sepinggan Balikpapan memberikan penjelasan ilmiah terkait dinamika atmosfer yang memengaruhinya.

Kepala Stasiun Meteorologi, Djoko Sumardiono, menegaskan bahwa dalam terminologi resmi BMKG tidak dikenal istilah “hujan lokal” sebagaimana yang kerap digunakan masyarakat. Menurutnya, klasifikasi hujan hanya dibedakan berdasarkan intensitas, yakni hujan ringan, sedang, lebat, hingga sangat lebat.

Ia menjelaskan bahwa fenomena hujan yang tidak merata tersebut disebabkan oleh kondisi atmosfer yang bersifat dinamis dan sangat dipengaruhi oleh faktor lokal. Salah satu faktor utama adalah tingkat ketidakstabilan atmosfer yang berperan dalam proses konveksi, yaitu proses naiknya massa udara hangat ke lapisan atas atmosfer yang kemudian membentuk awan hujan.

“Semakin tinggi tingkat labilitas atmosfer, maka semakin besar potensi terbentuknya awan konvektif yang dapat menghasilkan hujan di suatu wilayah tertentu,” jelas Djoko, Senin (6/4/2026).

Lebih lanjut, ia menguraikan bahwa distribusi hujan sangat bergantung pada kombinasi beberapa elemen, seperti kelembapan udara, suhu permukaan, serta pergerakan angin. Jika suatu wilayah memiliki kelembapan yang cukup tinggi dan kondisi atmosfer yang mendukung konveksi, maka peluang terjadinya hujan akan meningkat secara signifikan.

Sebaliknya, wilayah lain yang secara geografis berdekatan namun tidak memiliki kondisi atmosfer yang sama, bisa saja tidak mengalami hujan sama sekali. Hal inilah yang menyebabkan terjadinya perbedaan cuaca yang kontras dalam satu kota, seperti yang terjadi di Balikpapan.

Djoko juga mengimbau masyarakat untuk lebih aktif memantau informasi prakiraan cuaca yang telah disediakan secara resmi oleh BMKG. Saat ini, data prakiraan cuaca sudah tersedia secara detail hingga tingkat kecamatan dan dapat diakses melalui situs resmi maupun aplikasi InfoBMKG.

Dengan memahami dinamika cuaca yang dipengaruhi oleh faktor atmosfer lokal, masyarakat diharapkan dapat lebih waspada terhadap potensi cuaca ekstrem yang bisa terjadi secara tiba-tiba di wilayahnya masing-masing.

Sumber: BMKG Balikpapan

Tinggalkan Komentar