Kalapas Banjarmasin Turun ke Kolam, Rawat Lele dan Papuyu Bersama Warga Binaan

Lapas Banjarmasin
Kepala Lapas Kelas IIA Banjarmasin, Akhmad Herriansyah saat memberikan pakan ikan di kolam budidaya Sarana Asimilasi dan Edukasi (SAE) 2 Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Banjarmasin, Selasa (24/2/2026).

Banjarmasin, Gerbangkaltim.com — Suasana Sarana Asimilasi dan Edukasi (SAE) 2 Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Banjarmasin tampak berbeda. Di antara deretan kolam budidaya, Kepala Lapas Kelas IIA Banjarmasin, Akhmad Herriansyah, berdiri berdampingan dengan sejumlah warga binaan.

Ember-ember pakan di tangan mereka ditaburkan perlahan ke kolam lele dan papuyu yang tengah memasuki masa pembesaran.

Riak air yang muncul setiap kali pakan ditebar menjadi tanda dimulainya rutinitas yang tak sekadar soal memberi makan ikan. Di tempat itu, pembinaan kemandirian dijalankan melalui kedisiplinan yang sederhana namun konsisten.

“Pemberian pakan harus rutin, tepat waktu, dan sesuai takaran. Dari kegiatan sederhana seperti ini, kita belajar disiplin dan tanggung jawab,” ujar Herriansyah di sela kegiatan, Selasa (24/2/2026).

Menurut dia, budidaya ikan bukan hanya berorientasi pada hasil panen. Prosesnya justru menjadi bagian penting dalam membentuk karakter warga binaan.

“Yang ingin kita tanamkan adalah kebiasaan baik. Bagaimana mereka menghargai proses, bekerja dengan sabar, dan bertanggung jawab terhadap apa yang dikelola. Harapannya, keterampilan ini bisa menjadi modal ketika kembali ke masyarakat,” katanya.

Belajar dari Kolam

Di bawah pembinaan Seksi Kegiatan Kerja, budidaya lele dan papuyu di SAE 2 dirancang sebagai program berkelanjutan.

Kepala Seksi Kegiatan Kerja, Bagus Paras Etika menjelaskan, kedua jenis ikan tersebut memiliki karakteristik berbeda sehingga membutuhkan pendekatan perawatan yang tidak sama.

“Lele relatif lebih cepat pertumbuhannya, tetapi tetap perlu kontrol kualitas air yang baik. Sementara papuyu lebih sensitif, sehingga pengaturan pakan dan kebersihan kolam harus lebih diperhatikan,” jelasnya.

Ia menambahkan, warga binaan dilatih memahami jadwal pemberian pakan, takaran yang sesuai, hingga cara memantau kondisi air. Dengan demikian, kegiatan ini tidak berhenti pada aktivitas harian, melainkan menjadi pembelajaran teknis yang aplikatif.

“Kami ingin mereka benar-benar paham, bukan sekadar menjalankan perintah. Ada transfer pengetahuan di sini,” ujarnya.

Menumbuhkan Harapan

Bagi ZA (inisial), salah satu warga binaan yang terlibat, kegiatan di kolam budidaya menghadirkan pengalaman baru. Ia mengaku kini memahami proses perawatan ikan dari awal hingga siap panen.

“Ulun jadi tahu cara merawat lele dan papuyu dengan benar, dari kasih pakan sampai jaga kebersihan kolam. Mudahan ilmu ini bisa ulun pakai nanti untuk usaha sendiri,” tuturnya.

Di antara kolam-kolam itu, bukan hanya ikan yang tumbuh. Ada keterampilan yang diasah, disiplin yang dibangun, serta harapan yang perlahan dirawat.

Melalui program pembinaan berbasis kemandirian di SAE 2, Lapas Banjarmasin berupaya memastikan bahwa masa pembinaan menjadi ruang belajar—tempat warga binaan menyiapkan langkah baru untuk kembali ke tengah masyarakat.

Tinggalkan Komentar