Kodam VI/Mulawarman Kerahkan 35 Personel Penyuluh untuk Cegah Karhutla di Kaltim
Balikpapan, Gerbangkaltim.com — TNI memperkuat upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Timur dengan mengerahkan Tim Penyuluhan Karhutla dan Tim Alpha Karhutla ke sejumlah wilayah rawan kebakaran.
Pengerahan tersebut dilakukan sebagai langkah preventif untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai bahaya pembakaran lahan sekaligus mendorong keterlibatan warga dalam mencegah meluasnya karhutla.
Secara keseluruhan, TNI mengerahkan 583 personel yang terdiri dari 50 perwira tinggi (Pati) dan 533 perwira menengah (Pamen). Personel tersebut berasal dari unsur TNI Angkatan Darat, TNI Angkatan Laut, TNI Angkatan Udara, serta Mabes TNI.
Khusus di Pulau Kalimantan, sebanyak 146 personel dikerahkan. Rinciannya, 61 personel untuk Kalimantan Barat, 25 personel untuk Kalimantan Selatan, 25 personel untuk Kalimantan Tengah, dan 35 personel untuk Kalimantan Timur.
Pangdam VI/Mulawarman Mayjen TNI Krido Pramono mengatakan, tim penyuluh yang datang ke Kaltim berasal dari Mabes TNI, Mabes TNI AD, Mabes TNI AL, dan Mabes TNI AU.
“Ini bagian daripada upaya kita untuk menangani lagi kebakaran hutan dan lahan di wilayah Kalimantan Timur,” ujar Krido ditemui usai menyambut kedatangan Tim Penyuluh Karhutla di Makodam VI / Mulawarman, Minggu (30/8/2026).
Menurut dia, penanganan karhutla tidak cukup hanya dilakukan melalui mitigasi dan aksi di lapangan. Edukasi kepada masyarakat menjadi bagian penting untuk mencegah kebakaran kembali terjadi.
“Namun, hal penyuluhan seperti ini menjadi hal yang sangat penting,” katanya.
Krido mengatakan, langkah pencegahan perlu diperkuat mengingat kondisi cuaca panas dan kering masih berpotensi terjadi pada Agustus, September, hingga Oktober.
“Sehingga memang perlu langkah-langkah yang lebih masif agar nanti tereleminir terkait dengan kebakaran-kebakaran,” ujarnya.
Disebar ke 10 kabupaten/kota
Krido menjelaskan, personel penyuluh akan disebar ke berbagai wilayah di Kaltim. Mereka ditempatkan di daerah yang dinilai membutuhkan penguatan pencegahan karhutla, termasuk Kabupaten Kutai Barat, Kabupaten Paser, Kutai Kartanegara, dan Kabupaten Berau.
Selain itu, penyuluhan juga dilakukan di wilayah lain di Kaltim hingga mencakup 10 kabupaten/kota.
Penyuluhan tidak hanya dilakukan melalui kegiatan formal. Personel juga akan turun langsung ke lapangan dan berinteraksi dengan masyarakat.
“Mereka memberikan penyuluhan kepada masyarakat, baik secara formal ataupun informal, terus langsung di lapangan,” kata Krido.
Dalam pelaksanaannya, tim akan berkoordinasi dengan berbagai pihak, mulai dari TNI, Polri, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Basarnas, hingga Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
Menurut Krido, kolaborasi tersebut diperlukan agar upaya pencegahan karhutla tidak hanya dilakukan dari sisi penanganan di lapangan, tetapi juga didukung pendekatan ilmiah dan pemantauan kondisi cuaca.
“Kita tidak bosan-bosannya menyampaikan kepada masyarakat untuk menjaga lingkungan, hutan, lahan, perumahan, dan lain sebagainya dengan adanya musim kekeringan sekarang ini,” ujarnya.
Dia juga mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan pembakaran lahan secara sembarangan, khususnya untuk membuka lahan atau hutan.
“Apalagi sambil membuka lahan, membuka hutan, jelas ada sanksi yang cukup berat buat mereka,” tegas Krido.
BPBD: Pencegahan harus dilakukan sebelum memburuk
Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Kaltim Buyung Dodi Gunawan mengatakan, keterlibatan Tim Penyuluhan Karhutla menjadi tambahan kekuatan dalam upaya antisipasi kebakaran.
Menurut dia, pencegahan harus dilakukan sebelum kondisi karhutla berkembang menjadi lebih buruk.
“Ini bagian daripada kita antisipatif. Memang ini diperlukan sebelum semua itu terjadi lebih buruk,” kata Buyung.
Dia menilai penanganan karhutla tidak dapat hanya dibebankan kepada pemerintah. Masyarakat juga memiliki peran penting untuk mencegah munculnya titik api.
“Kita berterima kasih kepada masyarakat juga. Ada tambahan energi buat kita semua, jadi bukan hanya pemerintah, tapi juga semua tim supaya menjaga hal-hal yang tidak kita inginkan ini terjadi,” ujarnya.
Buyung mengatakan, kebakaran pada dasarnya merupakan kondisi yang tidak diinginkan oleh semua pihak, baik masyarakat maupun pemerintah. Namun, potensi kebakaran tetap ada karena berbagai faktor, termasuk kurangnya pengetahuan maupun tindakan yang disengaja.
“Kita ketahui bahwa sebenarnya kebakaran ini tidak diinginkan oleh semua, termasuk masyarakat pun, termasuk pemerintah. Tapi memang ada orang yang tidak tahu, ada orang yang sengaja, ada yang ingin dengan motivasi yang kita jembatani,” katanya.
Karena itu, ia berharap kehadiran tim penyuluh dapat membantu meningkatkan kesadaran masyarakat sekaligus memperkuat upaya bersama dalam menekan potensi karhutla di Kaltim.
Kehadiran Tim Penyuluhan Karhutla di lapangan diharapkan tidak hanya memberikan pemahaman mengenai bahaya pembakaran lahan, tetapi juga membangun kepedulian bersama untuk menjaga lingkungan.
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya TNI bersama pemerintah daerah dan berbagai instansi terkait untuk mencegah meluasnya karhutla serta melindungi lingkungan dan keselamatan masyarakat di tengah kondisi cuaca kering.
BACA JUGA
