Lapas Banjarmasin Latih Warga Binaan Membuat Tas Kanvas Rajut, Siapkan Bekal Usaha Usai Bebas
Banjarmasin, Gerbangkaltim.com – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Banjarmasin terus memperkuat program pembinaan kemandirian bagi warga binaan melalui pelatihan keterampilan yang memiliki nilai ekonomi. Kali ini, puluhan warga binaan dibekali kemampuan membuat tas kanvas rajut sebagai bekal untuk membuka peluang usaha setelah menyelesaikan masa pidana.
Pelatihan ini merupakan hasil kerja sama dengan Rumah Kreatif Alisa dan digelar di Aula Lapas Kelas IIA Banjarmasin, Rabu (8/7/2026).
Peserta mendapatkan materi sekaligus praktik langsung mulai dari pengenalan bahan dan peralatan, teknik dasar merajut pada media kanvas, penyusunan motif, hingga proses penyelesaian (finishing) agar menghasilkan produk yang rapi dan layak dipasarkan.
Kepala Lapas Kelas IIA Banjarmasin, Akhmad Herriansyah mengatakan, pembinaan kemandirian menjadi salah satu fokus utama dalam sistem pemasyarakatan karena bertujuan membentuk warga binaan menjadi pribadi yang produktif dan siap kembali ke masyarakat.
“Kami terus menghadirkan berbagai pelatihan keterampilan yang relevan dengan kebutuhan masyarakat dan memiliki nilai ekonomi. Harapannya, warga binaan memiliki bekal kompetensi sehingga mampu mandiri dan membuka peluang usaha setelah selesai menjalani masa pidana,” ujar Akhmad Herriansyah.
Menurutnya, pelatihan keterampilan tidak hanya memberikan pengalaman baru bagi warga binaan, tetapi juga menjadi sarana untuk meningkatkan rasa percaya diri sekaligus membangun mental kewirausahaan.
Selama pelatihan, peserta tampak antusias mengikuti setiap sesi praktik.
Mereka aktif berdiskusi dengan instruktur mengenai teknik merajut hingga penyelesaian produk agar memiliki kualitas yang baik dan bernilai jual.
Owner Rumah Kreatif Alisa sekaligus Ketua Komunitas Wanita Cerdas Berdaya, Alisa Rahmi, menilai warga binaan memiliki potensi besar untuk menghasilkan produk kerajinan yang mampu bersaing di pasar jika terus mendapatkan pendampingan.
“Saya senang dapat berbagi keterampilan melalui pelatihan tas kanvas rajut ini. Saya juga melihat potensi besar dari hasil karya warga binaan untuk dikembangkan melalui kolaborasi. Harapannya, ke depan kami dapat membuka akses pasar yang lebih luas, meningkatkan kapasitas produksi dan kualitas produk, sehingga hasil karya mereka mampu menembus pasar nasional, bahkan hadir di berbagai gerai seperti bandara maupun pusat oleh-oleh di tingkat provinsi,” kata Alisa.
Ia menambahkan, kolaborasi antara lembaga pemasyarakatan dan pelaku usaha kreatif dapat menjadi langkah strategis dalam mendukung proses reintegrasi sosial warga binaan. Produk yang dihasilkan tidak hanya memiliki nilai estetika, tetapi juga berpotensi memberikan sumber penghasilan ketika mereka kembali ke masyarakat.
Salah seorang peserta pelatihan berinisial WY mengaku memperoleh pengalaman baru melalui kegiatan tersebut. Ia mengatakan sebelumnya belum pernah mempelajari teknik pembuatan tas kanvas rajut.
“Saya sangat senang bisa mengikuti pelatihan ini karena sebelumnya belum pernah belajar membuat tas kanvas rajut. Instruktur menjelaskan dengan sabar sehingga kami bisa memahami setiap tahap pembuatannya. Saya berharap keterampilan ini terus diasah dan dapat menjadi bekal untuk membuka usaha maupun bekerja setelah bebas nanti,” ujar WY.
Melalui program pembinaan berbasis keterampilan ini, Lapas Kelas IIA Banjarmasin berharap warga binaan tidak hanya menjalani masa pidana, tetapi juga memperoleh kompetensi yang dapat meningkatkan peluang mereka untuk hidup mandiri.
Sinergi dengan berbagai pihak, termasuk pelaku industri kreatif, diharapkan mampu membuka akses pemasaran yang lebih luas sehingga hasil karya warga binaan memiliki daya saing dan memberikan manfaat ekonomi setelah mereka kembali ke tengah masyarakat.
BACA JUGA
