Lembaga Adat Paser Balikpapan Dilantik, Didorong Perkuat Harmoni Sosial di Tengah Pembangunan IKN

Pemkot Balikpapan
Ketua Umum Dewan Lembaga Adat Paser (DLAP), Aji Sabri, secara resmi melantik 41 pengurus Lembaga Adat Paser (LAP) Kota Balikpapan periode 2025–2030, Selasa (13/2/2026).

Balikpapan, Gerbangkaltim.com — Ketua Umum Dewan Lembaga Adat Paser (DLAP), Aji Sabri, secara resmi melantik 41 pengurus Lembaga Adat Paser (LAP) Kota Balikpapan periode 2025–2030. Pelantikan berlangsung di rumah jabatan Wali Kota Balikpapan, Selasa (13/1/2026).

Keberadaan LAP dinilai strategis dalam menjaga harmoni sosial dan kearifan lokal di tengah pesatnya pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) yang menjadikan Balikpapan sebagai wilayah penyangga utama di Kalimantan Timur.

Pelantikan tersebut dihadiri Sultan Paser Aji Muhammad Jarnawi, perwakilan Pemerintah Kota Balikpapan, sejumlah paguyuban etnis, serta organisasi perempuan daerah. Kehadiran lintas unsur ini menegaskan posisi lembaga adat sebagai bagian penting dalam kehidupan sosial masyarakat kota yang majemuk.

Dalam sambutannya, Aji Sabri menyampaikan bahwa pembentukan LAP Kota Balikpapan melalui proses panjang hingga akhirnya resmi terdaftar di Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kota Balikpapan.

“Alhamdulillah, dengan persiapan yang cukup panjang, hari ini pengukuhan DPD Lembaga Adat Paser Kota Balikpapan dapat terlaksana. Ini menjadi momentum penting agar LAP semakin berperan aktif di tengah masyarakat,” ujar Aji Sabri.

Ia menegaskan, Lembaga Adat Paser memiliki dua peran utama. Pertama, menjaga nilai-nilai adat dan budaya Paser sekaligus memperkuat persatuan dan toleransi di Kota Balikpapan yang dihuni berbagai suku dan etnis.

“Kami ingin Lembaga Adat Paser menjadi mitra pemerintah dan masyarakat dalam menjaga kearifan lokal, sekaligus memperkuat kebersamaan dan keharmonisan antaretnis di Kota Balikpapan,” katanya.

Peran kedua, lanjut Aji Sabri, adalah mendukung pembangunan IKN melalui kolaborasi lintas etnis dan lembaga adat. Menurut dia, pembangunan IKN harus disikapi dengan semangat kebersamaan dan kontribusi nyata.

“Salah satu target besar kami adalah mendukung IKN. Dukungan itu tidak boleh sekadar simbolik, tetapi diwujudkan melalui kolaborasi nyata bersama etnis-etnis lain di Balikpapan dan sekitarnya,” tegasnya.

Aji Sabri juga menyinggung posisi demografis masyarakat adat Paser yang secara umum mayoritas bermukim di Kabupaten Paser dan Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), sementara di Kota Balikpapan berada dalam posisi minoritas.

“Meski di Balikpapan kami minoritas, hal itu tidak mengurangi peran dan kontribusi masyarakat Paser dalam pembangunan dan kehidupan sosial kota ini,” ujarnya.

Sementara itu, Sultan Paser Aji Muhammad Jarnawi menegaskan pentingnya adat dan budaya sebagai perekat persatuan bangsa di tengah keberagaman masyarakat Indonesia.

“Budaya tidak boleh berdiri sendiri-sendiri dan tidak boleh memisahkan kita. Kita tidak boleh mengotak-kotakkan ras, suku, maupun agama, karena pada hakikatnya kita semua adalah satu, Indonesia,” kata Sultan Paser.

Ia juga menekankan bahwa Balikpapan memiliki keterkaitan sejarah dengan Kesultanan Paser yang harus dipahami sebagai identitas bersama.

“Balikpapan ini bagian dari sejarah Paser. Ini bukan sekadar cerita masa lalu, tetapi identitas yang harus kita jaga dan rawat bersama,” ujarnya.

Terkait pembangunan IKN, Sultan Paser menyatakan kebanggaan masyarakat adat Kalimantan Timur atas hadirnya pusat pemerintahan baru tersebut. Ia menyebut wilayah IKN secara historis merupakan bagian dari Kesultanan Paser dan Kutai.

“Kami bangga dengan hadirnya IKN. Kunjungan Presiden Republik Indonesia ke IKN menjadi bukti keseriusan negara dalam membangun masa depan Indonesia,” tutur Sultan Paser.

Dengan dilantiknya pengurus baru, Lembaga Adat Paser Kota Balikpapan diharapkan mampu berperan aktif sebagai jembatan antara tradisi, pembangunan, dan kehidupan sosial masyarakat perkotaan yang semakin dinamis.

Tinggalkan Komentar