Menari di Tengah Kemunafikan

Oleh  :  Ahmad Rano **

 

Dalam kehidupan sehari-hari, manusia sering hidup dalam standar ganda. Kita mudah mengutuk kesalahan orang lain, tetapi  sibuk mencari pembenaran ketika melakukan hal yang sama. Di media sosial, banyak orang membangun citra kehidupan yang sempurna: terlihat religius, peduli lingkungan, mendukung kemanusiaan, atau berbicara tentang moralitas. Namun di ruang pribadi, perilaku mereka justru berbanding terbalik dengan apa yang dipertontonkan.

 

DALAM Salah satu pemikiran yang cukup terkenal, Mochtar Lubis pernah menggambarkan bahwa manusia Indonesia memiliki banyak wajah dalam kehidupannya. Salah satu yang paling kuat adalah sifat hipokrit—berkata lain dari yang dilakukan, menampilkan wajah berbeda di ruang berbeda, serta menyesuaikan moral sesuai kepentingan. Pemikiran itu mungkin terasa keras, namun ketika melihat kehidupan politik, sosial, hingga dunia jurnalistik hari ini, pandangan tersebut terasa seperti cermin yang masih relevan.

Saya melihat kehidupan seperti sebuah tarian panjang. Tidak ada manusia yang benar-benar berjalan lurus tanpa topeng. Semua orang menari mengikuti irama kepentingannya masing-masing. Ada yang menari demi kekuasaan, ada yang menari demi pengakuan sosial, dan ada pula yang menari demi bertahan hidup. Dalam tarian itu, hipokrisi sering hadir bukan sekadar kebohongan, tetapi menjadi alat untuk bertahan di tengah kerasnya realitas.

Dalam politik misalnya, panggung demokrasi sering dipenuhi pidato tentang rakyat, keadilan, dan perubahan. Namun di balik layar, kepentingan pribadi kerap menjadi sutradara utama. Banyak tokoh tampil sederhana di depan publik, mengenakan bahasa kerakyatan, mendatangi pasar, mencium tangan warga, hingga berbicara tentang penderitaan masyarakat kecil. Tetapi setelah kursi kekuasaan diraih, jarak antara janji dan kenyataan perlahan melebar. Politik akhirnya menjadi seni memainkan citra.

Ironisnya, masyarakat sebenarnya menyadari pertunjukan itu. Mereka tahu sebagian besar janji politik tidak akan sepenuhnya ditepati. Namun masyarakat juga ikut menari dalam irama yang sama. Ada yang tetap mendukung karena kedekatan emosional, ada yang berharap mendapat keuntungan, dan ada pula yang memilih diam karena merasa tidak punya pilihan. Di titik itu, hipokrisi tidak hanya dimiliki elit politik, tetapi menyebar menjadi budaya sosial yang diterima bersama.

Dalam kehidupan sehari-hari, manusia sering hidup dalam standar ganda. Kita mudah mengutuk kesalahan orang lain, tetapi mencari pembenaran ketika melakukan hal yang sama. Di media sosial, banyak orang membangun citra kehidupan sempurna: terlihat religius, peduli lingkungan, mendukung kemanusiaan, atau berbicara tentang moralitas. Namun di ruang pribadi, perilaku mereka belum tentu sejalan dengan apa yang dipertontonkan.

Fenomena itu memperlihatkan bahwa manusia memiliki kebutuhan besar untuk terlihat baik di mata publik. Pengakuan sosial menjadi mata uang baru. Orang berlomba membangun kesan, bukan membangun kejujuran. Maka lahirlah generasi yang sibuk mempercantik tampilan hidup, tetapi perlahan kehilangan keberanian untuk menjadi diri sendiri.

Saya melihat hipokrisi bukan hanya soal kebohongan terang-terangan, tetapi juga tentang kompromi terhadap nurani. Banyak orang sebenarnya tahu mana yang benar, tetapi memilih diam karena takut kehilangan posisi, relasi, atau kenyamanan. Dalam dunia kerja misalnya, bawahan memuji atasan yang jelas-jelas salah. Rekan kerja tersenyum di depan, tetapi menjatuhkan dari belakang. Semua berlangsung rapi dan sopan, seolah kepalsuan telah menjadi etika modern.

Di tengah kondisi seperti itu, dunia jurnalistik memiliki posisi yang unik sekaligus rumit. Jurnalis sering dipandang sebagai penyampai kebenaran. Mereka berada di garis depan mengawasi kekuasaan, membongkar penyimpangan, dan menyuarakan suara masyarakat. Namun jurnalis juga manusia yang hidup di tengah sistem sosial dan politik yang penuh kepentingan.

Menjadi jurnalis berarti menari di antara idealisme dan realitas. Di satu sisi, seorang wartawan dituntut independen dan kritis. Tetapi di sisi lain, media memiliki kepentingan bisnis, tekanan politik, bahkan kedekatan dengan penguasa. Tidak sedikit jurnalis akhirnya berada dalam dilema: mempertahankan integritas atau mengikuti arus demi keamanan pekerjaan.

Dalam praktiknya, ada wartawan yang keras mengkritik satu pihak, tetapi lunak terhadap pihak lain karena kedekatan tertentu. Ada media yang terlihat membela rakyat, tetapi sebenarnya sedang menggiring opini sesuai kepentingan pemilik modal. Bahkan terkadang, berita tidak lagi sepenuhnya lahir dari fakta, melainkan dari kebutuhan membentuk persepsi publik.

 

Namun saya percaya, di tengah dunia yang penuh kepura-puraan itu, masih ada jurnalis yang menjaga nurani. Mereka tetap turun ke lapangan, mendengar suara masyarakat kecil, menulis dengan risiko tekanan dan ancaman. Mereka sadar bahwa kebenaran mungkin tidak selalu memenangkan keadaan, tetapi setidaknya menjadi catatan sejarah bahwa pernah ada orang yang berusaha jujur.

Bagi saya, pemikiran Mochtar Lubis bukan untuk membuat manusia saling mencurigai, melainkan untuk mengajak kita bercermin. Hipokrisi adalah bagian dari kelemahan manusia, tetapi kesadaran atas kelemahan itu seharusnya membuat kita lebih rendah hati. Sebab sering kali kita terlalu sibuk menilai kepalsuan orang lain, padahal diri sendiri juga sedang mengenakan topeng.

 

Kehidupan politik mengajarkan bahwa kekuasaan dapat mengubah wajah manusia. Kehidupan sosial menunjukkan bahwa citra sering lebih dihargai daripada ketulusan. Sedangkan dunia jurnalistik membuktikan bahwa memperjuangkan kebenaran membutuhkan keberanian melawan arus kepentingan.

 

Pada akhirnya, manusia memang hidup dengan banyak wajah. Tetapi di tengah tarian panjang kehidupan itu, kejujuran tetap menjadi sesuatu yang paling langka sekaligus paling bernilai. Sebab dunia mungkin dipenuhi orang-orang yang pandai berbicara tentang moral, tetapi sejarah hanya akan mengingat mereka yang berani hidup sesuai kata-katanya.

 

** Penulis Ketua HMI Cabang Kabupaten Paser Periode  2009-2010

Tinggalkan Komentar