Naik Kelas, Produk Pertanian Lapas Banjarmasin Dibidik Sertifikasi Prima 3

lapas Banjarmasin
Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Kalimantan Selatan kunjungi Lapas Kelas IIA Banjarmasin sebagai upaya peningkatan kualitas pembinaan kemandirian WBP untuk menghasilkan produk pertanian bersertifikasi Prima 3, sebuah pengakuan mutu dan keamanan pangan segar asal tumbuhan, Selasa (24/2/2026).

Banjarmasin, Gerbangkaltim.com — Upaya peningkatan kualitas pembinaan kemandirian di Lapas Kelas IIA Banjarmasin terus bergerak maju. Hasil pertanian yang dibudidayakan warga binaan kini dibidik untuk meraih Sertifikasi Prima 3, sebuah pengakuan mutu dan keamanan pangan segar asal tumbuhan.

Langkah tersebut ditandai dengan kunjungan tim dari Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Kalimantan Selatan ke lapas setempat, Selasa (24/2/2026).

Kunjungan itu dilakukan untuk mengambil sampel produk pertanian yang dikembangkan di Sarana Asimilasi dan Edukasi (SAE) sebagai bagian dari proses verifikasi sertifikasi.

Rombongan dipimpin Kepala Seksi Konsumsi dan Keamanan Pangan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kalsel, Akhmad Syahid Berny. Mereka diterima Kepala Seksi Kegiatan Kerja Lapas Banjarmasin, Bagus Paras Etika, bersama jajaran Seksi Kegiatan Kerja.

Sertifikasi Prima 3 merupakan jaminan bahwa produk pangan segar asal tumbuhan telah memenuhi standar keamanan pangan sesuai ketentuan yang berlaku. Sertifikat ini juga menjadi salah satu indikator bahwa proses budidaya dilakukan secara baik dan bertanggung jawab.

Kepala Lapas Kelas IIA Banjarmasin, Akhmad Herriansyah menegaskan, pengajuan sertifikasi bukan sekadar formalitas administratif, melainkan bagian dari transformasi pembinaan yang berorientasi pada kualitas dan daya saing.

“Kami tidak ingin berhenti pada tahap produksi saja. Hasil pertanian warga binaan harus memenuhi standar dan memiliki nilai jual yang diakui. Sertifikasi Prima 3 ini menjadi bukti keseriusan kami dalam menjaga mutu,” ujar Herriansyah saat ditemui di sela kegiatan.

Menurut dia, pengalaman mengikuti proses sertifikasi juga menjadi pembelajaran penting bagi warga binaan. Mereka diperkenalkan pada standar keamanan pangan, tata kelola budidaya, hingga pentingnya konsistensi kualitas produk.

“Ini bukan hanya tentang hasil panen, tetapi tentang membangun pola pikir profesional. Ketika mereka kembali ke masyarakat, mereka sudah memahami bahwa dunia kerja menuntut standar dan tanggung jawab,” kata Herriansyah.

Bagus Paras Etika menambahkan, proses sertifikasi menjadi motivasi tambahan bagi petugas dan warga binaan untuk menjaga kualitas secara berkelanjutan. Ia menyebut, selama ini hasil pertanian dari SAE tidak hanya dimanfaatkan untuk kebutuhan internal, tetapi juga dipasarkan secara terbatas.

Sementara itu, Akhmad Syahid Berny menjelaskan, pengambilan sampel merupakan tahapan penting sebelum produk dinyatakan layak memperoleh Sertifikasi Prima 3. Tim melakukan identifikasi dan pengujian sesuai prosedur yang telah ditetapkan.

“Jika seluruh persyaratan terpenuhi, maka produk tersebut dapat direkomendasikan untuk mendapatkan sertifikat. Prinsipnya, keamanan pangan harus terjamin dari proses budidaya hingga distribusi,” ujarnya.

Upaya meraih Sertifikasi Prima 3 ini memperlihatkan arah baru pembinaan di Lapas Banjarmasin. Kegiatan pertanian tidak lagi sekadar aktivitas pengisi waktu, melainkan ruang pembelajaran keterampilan yang terukur dan berstandar.

Bagi para warga binaan, sertifikasi tersebut diharapkan menjadi bekal kepercayaan diri. Bagi lembaga, langkah ini menjadi penanda bahwa pembinaan kemandirian dapat berjalan selaras dengan prinsip mutu, keamanan, dan daya saing produk.

Tinggalkan Komentar