Sentuhan Hangat di Balik Jeruji: Senyum Anak-anak Menghias Kunjungan Hari Raya di Lapas Banjarmasin

Kepala Lapas Banjarmasin, Akhmad Herriansyah saat memberikan memberikan makanan ringan pada saat kunjungan Lapas Banjarmasin, Senin (23/3/2026).

Balikpapan, Gerbangkaltim.com – Di antara riuh perayaan Hari Raya Idul Fitri yang identik dengan kebersamaan keluarga, ada sudut-sudut sunyi yang tak semua orang bayangkan—termasuk di dalam lembaga pemasyarakatan. Namun pagi itu di Lapas Kelas IIA Banjarmasin, suasana terasa sedikit berbeda. Hangat, bahkan menyentuh.

Di ruang kunjungan yang dipadati keluarga, anak-anak datang dengan langkah kecil yang ragu namun penuh rindu. Sebagian menggenggam tangan orang dewasa, sebagian lain berlari kecil, seolah ingin segera menemukan pelukan yang telah lama dinanti.

Di tengah suasana itu, Kepala Lapas Banjarmasin, Akhmad Herriansyah, tampak berjalan mendekati anak-anak. Bukan dengan formalitas, melainkan dengan senyum dan sapaan ringan.

Satu per satu anak diberinya makanan ringan gestur sederhana yang mungkin mudah terlupakan di luar sana, tetapi terasa begitu berarti di tempat ini.

Tak ada seremoni. Hanya interaksi singkat yang mengalir alami. Namun dari situlah, tawa-tawa kecil pecah. Mata yang semula tampak canggung berubah berbinar. Di wajah para orang tua—para warga binaan—terselip kelegaan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.

Hari Raya, yang sering dimaknai sebagai momen kembali, bagi mereka menjadi pertemuan yang terbatas oleh waktu dan ruang. Namun perhatian kecil itu seolah menjembatani jarak yang ada, menghadirkan rasa dekat di tengah keterpisahan.

“Kami ingin anak-anak tetap merasakan kebahagiaan saat berkunjung,” ujar Herriansyah singkat, Senin (23/3/2026).

Di balik tembok tinggi dan pintu berlapis pengamanan, momen itu menjadi pengingat bahwa kemanusiaan tak pernah benar-benar terkurung. Bahwa di tempat yang kerap diasosiasikan dengan hukuman, masih ada ruang untuk empati tumbuh dan dibagikan.

Bagi anak-anak itu, mungkin yang mereka ingat bukanlah tempatnya, melainkan perasaan yang mereka bawa pulang: bahwa di hari yang fitri, mereka tetap disambut dengan senyum.

Dan bagi banyak orang, kisah kecil ini menjadi cermin bahwa makna Hari Raya tak selalu hadir dalam kemewahan, melainkan dalam perhatian yang tulus, sekecil apa pun bentuknya.

Tinggalkan Komentar