Simulasi Banjir Kodim Berau Perkuat Kesiapsiagaan Lintas Instansi

Simulasi banjir
Personel Kodim 0902/Berau bersama BPBD Berau dan berbagai instansi mengikuti simulasi penanggulangan bencana banjir guna memperkuat koordinasi, kesiapsiagaan, dan respons terpadu menghadapi potensi bencana di Kabupaten Berau.

Gerbangkaltim.com, Tanjung Redep – Simulasi penanggulangan bencana banjir yang digelar Kodim 0902/Berau menjadi langkah strategis dalam memperkuat koordinasi dan kesiapsiagaan lintas instansi menghadapi potensi banjir yang hampir setiap tahun melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Berau. Melalui latihan terpadu tersebut, setiap unsur yang terlibat diharapkan semakin memahami tugas, fungsi, dan mekanisme koordinasi sehingga penanganan bencana dapat berlangsung lebih cepat, efektif, dan terarah.

Kegiatan ini melibatkan berbagai instansi pemerintah, aparat keamanan, relawan, hingga unsur masyarakat sebagai bagian dari upaya membangun sistem penanggulangan bencana yang terpadu.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Berau, Masyhadi Muhdi, mengatakan simulasi yang diprakarsai Kodim 0902/Berau merupakan bentuk kesiapan menghadapi kondisi darurat sebelum bencana benar-benar terjadi.

Menurutnya, latihan tersebut tidak hanya berfokus pada proses penyelamatan korban, tetapi juga mencakup tahapan perencanaan, koordinasi, penanganan darurat, hingga proses pemulihan pascabencana.

“Simulasi ini dilakukan agar kita siap siaga apabila bencana banjir terjadi. Yang dipersiapkan bukan hanya saat penanganan di lapangan, tetapi juga bagaimana perencanaan dilakukan dan langkah-langkah setelah bencana selesai,” ujar Masyhadi.

Dalam simulasi tersebut, BPBD Berau mengerahkan seluruh personel Tim Reaksi Cepat (TRC) yang berjumlah 10 orang. Selain personel, sejumlah peralatan pendukung juga disiagakan untuk menguji kesiapan operasional di lapangan.

Peralatan yang diterjunkan meliputi kendaraan operasional, perahu karet beserta dayung, pelampung, tenda darurat, hingga bed camp yang digunakan sebagai fasilitas penampungan sementara bagi warga terdampak bencana.

Masyhadi menjelaskan, latihan bersama tersebut juga menjadi sarana mengukur efektivitas koordinasi antarinstansi. Setiap unsur diberikan peran sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya, mulai dari tim evakuasi, tenaga kesehatan, logistik, hingga unsur pendukung lainnya.

“Tujuan simulasi ini agar semua pihak mengetahui siapa berbuat apa ketika bencana benar-benar terjadi. Dengan begitu koordinasi di lapangan bisa lebih efektif dan tidak terjadi tumpang tindih tugas,” jelasnya.

Ia menegaskan bahwa keberhasilan penanggulangan bencana tidak dapat dibebankan hanya kepada BPBD maupun aparat TNI dan Polri. Penanganan bencana memerlukan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan, termasuk pemerintah daerah, dunia usaha, organisasi kemanusiaan, relawan, hingga masyarakat.

Dalam simulasi tersebut turut berpartisipasi personel dari TNI, Polri, Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan, PMI, Dinas Kesehatan, Taruna Siaga Bencana (Tagana), tim rescue PT Berau Coal, serta mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang sedang bertugas di BPBD Berau.

Menurut Masyhadi, keterlibatan mahasiswa menjadi bagian dari upaya menumbuhkan kesadaran generasi muda terhadap pentingnya kesiapsiagaan menghadapi bencana.

“Kami sengaja melibatkan mahasiswa agar mereka memiliki kepedulian dan kesiapan apabila suatu saat terjadi bencana. Bencana adalah urusan bersama, sehingga seluruh elemen masyarakat harus memiliki kesadaran untuk ikut berperan,” tegasnya.

Melalui latihan terpadu ini, BPBD Berau berharap budaya kesiapsiagaan terus tumbuh di tengah masyarakat. Sinergi seluruh unsur dinilai menjadi kunci untuk mempercepat respons saat terjadi bencana sekaligus meminimalkan risiko terhadap keselamatan warga dan kerugian yang ditimbulkan.

Tinggalkan Komentar