Sunyi yang Menghidupkan Harapan dari Balik Jeruji Lapas Banjarmasin

Lapas Banjarmasin
WBP Lapas Banjarmasin menggunakan waktu luangnya untuk membaca buku di ruang perpustakaan, Senin (30/3/2026).

Banjarmasin, Gerbangkaltim.com — Di balik tembok tinggi Lapas Kelas IIA Banjarmasin, ada sebuah ruang sunyi yang pelan-pelan menyalakan harapan. Bukan ruang sidang, bukan pula ruang kunjungan, melainkan perpustakaan kecil yang kini menjadi tempat bertumbuh bagi para warga binaan.

Deretan buku yang tersusun rapi di rak-rak sederhana itu menghadirkan dunia lain—dunia yang bisa dijelajahi tanpa harus melangkah keluar. Di tempat inilah, waktu yang dulu terasa berat perlahan berubah menjadi kesempatan untuk belajar dan memperbaiki diri.

Kepala Lapas Banjarmasin, Akhmad Herriansyah, melihat perpustakaan bukan sekadar fasilitas pelengkap, melainkan bagian penting dari proses pembinaan.

“Perpustakaan menjadi salah satu sarana pembinaan yang efektif untuk meningkatkan pengetahuan dan wawasan warga binaan. Kami ingin mereka tetap produktif dan memiliki bekal positif selama menjalani masa pidana,” ujarnya, Senin (30/3/2026).

Di tengah rutinitas yang serba terbatas, membaca menjadi jalan sunyi yang membawa perubahan. Buku-buku yang tersedia tidak hanya menghadirkan pengetahuan, tetapi juga memberi ruang refleksi—sesuatu yang sering kali sulit ditemukan dalam kehidupan sehari-hari di dalam lapas.

Kepala Seksi Bimbingan Narapidana/Anak Didik, Gilang Wisnuwardhana, menuturkan bahwa kegiatan membaca memiliki dampak yang lebih dalam dari yang terlihat.

“Melalui perpustakaan, warga binaan dapat mengisi waktu dengan kegiatan yang bermanfaat sekaligus meningkatkan kualitas diri. Ini bagian dari pembinaan yang berkelanjutan dan membangun pola pikir yang lebih baik,” katanya.

Bagi sebagian warga binaan, perpustakaan menjadi tempat pelarian yang sehat—bukan untuk melupakan, tetapi untuk memahami dan memperbaiki diri. MPH, salah seorang warga binaan, mengaku menemukan ketenangan di antara halaman-halaman buku.

“Dengan membaca buku, saya merasa lebih tenang dan mendapatkan banyak pengetahuan baru. Waktu di sini jadi lebih bermanfaat dan tidak terbuang sia-sia,” ungkapnya.

Upaya menghidupkan budaya literasi di dalam lapas ini menjadi bagian dari pendekatan pembinaan yang lebih humanis. Tidak hanya berfokus pada aspek hukuman, tetapi juga pada proses pemulihan dan peningkatan kualitas diri.

Melalui perpustakaan, Lapas Banjarmasin berupaya membangun ruang belajar yang inklusif—tempat di mana setiap individu, meski tengah menjalani masa pidana, tetap memiliki kesempatan untuk tumbuh, berpikir ulang, dan menyiapkan langkah baru ketika kembali ke masyarakat.

Tinggalkan Komentar