Demo di Depan Kantor Gubernur Kaltim Ricuh, Massa Bertahan Meski Diimbau Bubar
Samarinda, Gerbangkaltim.com — Aksi demonstrasi ribuan massa di depan Kantor Gubernur Kalimantan Timur berujung ricuh pada Selasa petang. Ketegangan terjadi sekitar pukul 18.14 Wita setelah massa menolak membubarkan diri meski telah diimbau oleh aparat keamanan.
Berdasarkan pantauan di lapangan, massa yang terdiri dari mahasiswa dan masyarakat sempat melakukan aksi pelemparan menggunakan gelas serta botol air mineral ke arah petugas. Aksi tersebut merupakan bentuk penolakan terhadap perintah pembubaran.
Petugas dari satuan Sabhara dan Brimob Polda Kaltim kemudian merespons dengan bergerak maju untuk membubarkan massa. Empat unit mobil Armoured Water Cannon (AWC) dikerahkan dan menyemprotkan air ke arah kerumunan guna mengendalikan situasi.
Sebelumnya, sekitar pukul 17.54 Wita, aparat telah meminta massa untuk membubarkan diri. Namun hingga lebih dari 20 menit kemudian, massa tetap bertahan dan terpecah menjadi dua kelompok, masing-masing bergerak ke arah Gedung Bank Indonesia dan Kantor Pos di Jalan Gajah Mada.
Hingga berita ini diturunkan, sebagian massa masih bertahan di sekitar lokasi, sementara aksi pelemparan terhadap petugas dilaporkan masih terjadi di beberapa titik.
Aksi yang dikenal dengan sebutan “Aksi 214” ini merupakan lanjutan dari demonstrasi sebelumnya di Kantor DPRD Kalimantan Timur. Sekitar 7.000 orang dilaporkan mengikuti long march menuju Kantor Gubernur sejak siang hari.
Massa yang tergabung dalam Aliansi Masyarakat Peduli (APM) Kaltim mulai memadati lokasi aksi sekitar pukul 13.41 Wita. Mereka berasal dari berbagai daerah, antara lain Kutai Kartanegara, Paser, Balikpapan, Samarinda, dan Bontang, serta melibatkan puluhan organisasi masyarakat dan ratusan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi.
Dalam aksinya, massa menyuarakan kritik terhadap sejumlah kebijakan Gubernur Kalimantan Timur, Rudy Mas’ud, yang dinilai tidak berpihak kepada masyarakat. Beberapa isu yang disoroti antara lain pengadaan mobil dinas mewah senilai Rp8,5 miliar serta anggaran renovasi dan pemeliharaan rumah dinas dan kantor gubernur yang mencapai Rp25 miliar.
Selain itu, demonstran juga menilai program unggulan di bidang pendidikan dan kesehatan belum berjalan sesuai janji politik. Isu lain yang turut disorot adalah dugaan praktik dinasti politik dalam pengisian jabatan strategis di lingkungan pemerintahan daerah.
Aksi sempat berjalan tertib. Pada pukul 16.40 Wita, massa menghentikan orasi untuk melaksanakan shalat Ashar. Namun situasi memanas menjelang malam setelah negosiasi antara massa dan aparat tidak mencapai kesepakatan.
Sejumlah peserta aksi juga dilaporkan mendapat perawatan dari tim medis akibat kelelahan dan terpapar panas selama mengikuti demonstrasi.
Situasi di sekitar Kantor Gubernur Kalimantan Timur hingga Selasa malam masih dalam pengawasan aparat keamanan.
BACA JUGA
