Diklat PIP secara online sebagai upaya pembumian Pancasila yang lebih efektif bagi Masyarakat

image_pdfimage_print

Perlu adanya dampak besar dari Pembinaan Ideologi Pancasila kepada masyarakat, karena jika tidak kita hanya akan terjebak pada pengulangan pengulangan yang berakibat adanya persepsi masyarakat bahwa diklat Pembinaan Ideologi Pancasila hanyalah sekedar Formalitas belaka”

                         — Benny Susetyo—

PASER, Gerbangkaltim.com – Sebagai Upaya perbaikan dan pembaharuan  terhadap Pendidikan dan Pelatihan Pembinaan Ideologi Pancasila di masyarakat, Deputi Pendidikan dan Pelatihan Badan Ideologi Pembinaan Pancasila melalui Direktorat Perencanaan Pendidikan dan Pelatihan mengadakan Diskusi Kelompok Terpumpun bertema pemanfaatan Learning Management System Diklat PIP dan Perencanaan Penyusunan Cetak Biru diklat PIP yang diselenggarakan di jakarta pada Senin (16 /01/2023)

Pemanfaatan Learning Management System melalui aplikasi SiKUAT ini dipandang penting mengingat peserta Diklat PIP yang mencakup seluruh indonesia maka dipandang perlunya pemanfaatan tehnologi digital dalam pelaksanaan Diklat PIP, pemanfaatan tehnologi ini dianggap menjadi jawaban atas kendala kendala pelaksanaan diklat secara manual yang akan lebih banyak memakan waktu, tenaga dan biaya .

Diskusi Kelompok terpumpun ini antara lain dihadiri oleh para Stake Holder dari Unsur Badan Pembinaan Ideologi Pancasila, Web developer dan konsultan Aplikasi serta dari Kementerian Komunikasi dan Informasi dengan mengundang Staff Khusus Dewan Pengarah BPIP Antonius Benny Susetyo dan Dewan Pakar bidang Geopolitik, Geostrategi dan Manajemen Pemerintahan Prof Dr Ermaya Suradinata S.H., M.H M. S.

Dalam kesempatan pertama Antonius Benny Susetyo, Staff khusus Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila menyatakan perlu adanya dampak besar dari Pembinaan Ideologi Pancasila kepada masyarakat, karena jika tidak kita hanya akan terjebak pada pengulangan pengulangan yang berakibat adanya persepsi masyarakat bahwa diklat Pembinaan Ideologi Pancasila hanyalah sekedar Formalitas belaka.

Pendidikan dan Pelatihan Pembinaan Ideologi Pancasila hendaknya berfokus pada   tiga titik berat yang perlu dijiwai oleh para peserta yaitu Logos, ethos dan Pathos.

BPIP hendaknya benar benar melakukan pemetaan mengenai tipe tipe  para peserta diklat agar materi yang disajikan benar benar berfokus dan tepat sasaran hingga program program yang diberikan kepada peserta  menjadi tepat guna.

Pendidikan dan Pelatihan yang efektif harus partisipatif dan melibatkan para peserta dalam menggali nilai nilai pancasila hingga pancasila benar benar menjadi ideologi yang hidup dan bekerja dalam pola pikir para peserta diklat dan akan berkesinambungan dalam pola hidup dan kerja para peserta diklat sehari hari bahkan setelah diklat selesai.

Diharapkan aplikasi Pembinaan Ideologi Pancasila yang dibuat ditampilkan secara sederhana namun efektif dalam upaya pembumian Ideologi Pancasila pada komponen komponen masyarakat yang memiliki peran penting dalam kehidupan sehari hari hingga dapat mempengaruhi pola pikir dalam masyarakat untuk mengubah pola pikir dan pandang Masyarakat mengenai Pancasila.

“BPIP dan para Stakeholder hendaknya  mulai mencari cara, model dan materi pendidikan dan pelatihan  yang sesuai terhadap masing masing kelompok masyarakat Indonesia hingga  Pendidikan dan Pelatihan  yang diselenggarakan BPIP  menjadi sebuah upaya pembumian pancasila yang efektif dan tepat guna serta dapat dilaksanakan secara terus menerus dan  berkesinambungan, ” ujar Benny menutup Paparannya.

Untuk Selanjutnya Prof Ermaya Suradinata dalam paparannya menyatakan bahwa  perkembangan situasi global yang berpengaruh pada perkembangan suatu negara khususnya Indonesia maka Ideologi yang merupakan Jati diri dan Identitas Bangsa merupakan   suatu keharusan dalam setiap negara.

Negara ini adalah suatu organisasi, turunan organisasi adalah manajemen, didalam manajemen akan membentuk behaviour, maka negara akan membentuk behaviour adalah Tugas BPIP untuk membuat behaviour setiap segmentasi di setiap lapisan masyarakat membutuhkan Pancasila, bukan dengan Paksaan Namun dengan memunculkan kesadaran pada  setiap orang bahwa mereka membutuhkan Pancasila.

Dalam Era digital sekarang ini tentunya akan berbeda dengan generasi dan Era yang lalu, dibutuhkan kesadaran seluruh komponen masyarakat dalam upaya pembumian dan menjadikan Pancasila sebagai behaviour bangsa, dan bukan hanya tanggungjawab Pihak tertentu seperti Kesbangpol
Menutup Paparannya  mengenai Pembinaan Ideologi Pancasila Ermaya menyatakan bahwa Dalam suatu sistem pendidikan, harus dilihat tingkatan peserta, contohnya sosialisasi di tingkat Menteri, sifatnya tidak mengajari, tetapi memberikan pemahaman bahwa urgensi Pancasila menjadi Dasar Negara, sehingga pejabat negara dapat menjadi contoh dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. (*/erwe)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *