Kredit Perbankan di Balikpapan Tumbuh 17,66 Persen, BI: Investasi dan Proyek IKN Jadi Penggerak Utama
Balikpapan, Gerbangkaltim.com – Kinerja perbankan di wilayah kerja Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Balikpapan yang meliputi Kota Balikpapan, Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), dan Kabupaten Paser tetap menunjukkan tren positif pada triwulan II 2026.
Penyaluran kredit tumbuh 17,66 persen secara tahunan (year on year/yoy) menjadi Rp41,51 triliun, didorong meningkatnya kredit investasi yang berkaitan dengan pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) dan proyek hilirisasi industri.
Meski laju pertumbuhan sedikit melambat dibanding triwulan I 2026 yang mencapai 19,5 persen, Bank Indonesia menilai capaian tersebut mencerminkan masih kuatnya aktivitas ekonomi daerah di tengah ketidakpastian global akibat dinamika geopolitik.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan, Robi Ariadi, mengatakan pertumbuhan kredit yang tetap tinggi menjadi salah satu indikator kuatnya optimisme dunia usaha maupun sektor perbankan terhadap prospek ekonomi wilayah penyangga IKN.
“Pertumbuhan kredit yang tetap positif dan tinggi menjadi faktor penting yang mendukung pertumbuhan ekonomi daerah. Hal ini juga menunjukkan optimisme pelaku usaha dan perbankan terhadap perkembangan ekonomi ke depan,” kata Robi Ariadi, Kamis (23/7/2026).
Menurutnya, kualitas kredit juga masih terjaga. Rasio kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL) tercatat sebesar 2,57 persen pada triwulan II 2026. Angka tersebut memang sedikit meningkat dibanding triwulan sebelumnya yang sebesar 2,47 persen, namun masih berada jauh di bawah ambang batas aman sebesar 5 persen.
Dari sisi penggunaan, pertumbuhan kredit paling tinggi berasal dari kredit investasi yang melonjak 44,34 persen secara tahunan. Kredit investasi kini menyumbang 39,35 persen dari total kredit perbankan di wilayah kerja BI Balikpapan.
Sementara itu, kredit konsumsi tumbuh 5,95 persen seiring tetap terjaganya daya beli masyarakat. Adapun kredit modal kerja meningkat 3,78 persen karena kebutuhan pembiayaan pelaku usaha di berbagai sektor masih cukup tinggi.
Secara keseluruhan, pembiayaan untuk kegiatan usaha melalui kredit investasi dan modal kerja masih mendominasi dengan porsi mencapai 64,03 persen, sedangkan kredit konsumsi memiliki pangsa 35,97 persen.
Jika dilihat berdasarkan lapangan usaha, sektor konstruksi menjadi penyerap kredit terbesar dengan pangsa 18,83 persen, disusul perdagangan sebesar 13,61 persen dan pertanian sebesar 10,84 persen.
Robi menjelaskan, tingginya kredit pada sektor konstruksi tidak terlepas dari berlanjutnya pembangunan kawasan IKN tahap II serta proyek hilirisasi industri di Kalimantan Timur.
“Kredit sektor konstruksi tumbuh sangat signifikan hingga 176,77 persen secara tahunan. Ini didorong oleh berlanjutnya proyek hilirisasi industri dan pembangunan IKN yang memasuki tahap kedua,” ujarnya.
Selain konstruksi, sektor pertambangan juga mencatat pertumbuhan kredit sebesar 50,09 persen, sedangkan sektor transportasi dan pergudangan meningkat 8,33 persen seiring meningkatnya aktivitas logistik untuk mendukung distribusi barang.
Di sisi lain, penyaluran kredit kepada pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) mencapai Rp12,79 triliun. Nilai tersebut sedikit meningkat dibanding triwulan sebelumnya sebesar Rp12,75 triliun.
Namun secara tahunan, kredit UMKM mengalami kontraksi tipis sebesar 0,23 persen setelah sebelumnya masih tumbuh 1,1 persen.
Menurut Robi, perlambatan tersebut dipengaruhi langkah perbankan yang lebih selektif dalam menyalurkan pembiayaan untuk menjaga kualitas kredit, seiring meningkatnya rasio NPL UMKM dari 3,9 persen menjadi 4,2 persen.
Meski demikian, pangsa kredit UMKM terhadap total kredit meningkat menjadi 30,80 persen, menunjukkan sektor tersebut masih menjadi perhatian dalam pembiayaan perbankan.
Sementara dari sisi penghimpunan dana, Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh 4,15 persen secara tahunan menjadi Rp49,52 triliun. Komposisi DPK masih didominasi tabungan sebesar 55,65 persen, disusul giro 28,77 persen dan deposito 15,58 persen.
Kondisi tersebut membuat rasio Loan to Deposit Ratio (LDR) tetap berada pada level tinggi, yakni 83,82 persen, yang menunjukkan fungsi intermediasi perbankan berjalan dengan baik.
Robi menegaskan Bank Indonesia akan terus memperkuat sinergi dengan pemerintah daerah dan industri perbankan agar intermediasi keuangan tetap terjaga sekaligus mampu mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan di wilayah Balikpapan, Penajam Paser Utara, dan Paser.
BACA JUGA
