Operasi Ketupat 2026 Gunakan Teknologi Modern, Wakapolri: Drone hingga Command Center Mobile Pantau Arus Mudik Secara Real Time

Operasi Ketupat 2026
Wakapolri Dedi Prasetyo meninjau Command Center pengendalian arus mudik di Rest Area KM 29 Tol Jakarta–Cikampek untuk memastikan kesiapan teknologi pemantauan lalu lintas dalam pelaksanaan Operasi Ketupat 2026.

Gerbangkaltim.com, Jakarta – Pengamanan arus mudik Lebaran tahun ini dilakukan dengan dukungan teknologi yang semakin canggih. Wakil Kepala Kepolisian Republik Indonesia, Dedi Prasetyo, menegaskan bahwa pelaksanaan Operasi Ketupat 2026 memanfaatkan berbagai perangkat teknologi modern untuk memantau kondisi lalu lintas secara cepat, akurat, dan terintegrasi.

Hal tersebut disampaikan Wakapolri saat melakukan pengecekan kesiapan Command Center Operasi Ketupat di kawasan Rest Area KM 29 Tol Jakarta–Cikampek. Menurutnya, kesiapan sistem pemantauan dan pengelolaan informasi tahun ini jauh lebih baik dibandingkan pelaksanaan operasi pengamanan mudik pada tahun-tahun sebelumnya.

Ia menjelaskan bahwa teknologi yang digunakan memungkinkan petugas memantau situasi arus lalu lintas secara real time sehingga memudahkan proses analisis data dan pengambilan keputusan dalam penerapan rekayasa lalu lintas, seperti sistem contraflow maupun one way apabila terjadi kepadatan kendaraan.

Salah satu inovasi yang diterapkan adalah penggunaan kamera yang terpasang pada tubuh personel atau bodycam. Perangkat tersebut digunakan oleh petugas patroli lalu lintas yang bertugas di lapangan untuk merekam situasi sekaligus memastikan setiap tindakan anggota dapat diawasi secara transparan dan akuntabel.

“Bodycam ini penting untuk memantau situasi di lapangan sekaligus mengontrol tindakan anggota agar pelaksanaan tugas tetap profesional,” ujar Dedi.

Selain bodycam, pengamanan arus mudik juga diperkuat dengan keberadaan Command Center mobile yang dilengkapi teknologi drone. Drone tersebut digunakan untuk memantau titik-titik lalu lintas yang tidak terjangkau kamera pengawas atau CCTV.

Melalui pemantauan udara tersebut, petugas dapat memperoleh gambaran kondisi lalu lintas secara lebih menyeluruh. Data yang diperoleh kemudian dianalisis untuk menentukan langkah strategis dalam pengaturan arus kendaraan selama periode mudik.

Tak hanya itu, pengawasan arus mudik juga didukung teknologi drone ETLE (Electronic Traffic Law Enforcement) yang memungkinkan penindakan pelanggaran lalu lintas secara elektronik tanpa harus menghentikan kendaraan secara langsung di jalan.

Pemantauan lalu lintas juga diperkuat dengan sistem analisis berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang mampu mengolah data lalu lintas secara cepat. Sistem ini terintegrasi dengan jaringan command center di berbagai wilayah Indonesia, mulai dari Pulau Jawa, Sumatra hingga Bali.

Selain itu, Polri juga menggunakan teknologi traffic counting yang berfungsi menghitung jumlah kendaraan yang melintas di ruas jalan tertentu. Data tersebut menjadi indikator penting dalam menentukan langkah rekayasa lalu lintas saat terjadi lonjakan volume kendaraan.

Seluruh sistem tersebut terintegrasi melalui Aplikasi K3I (Kendali, Koordinasi, Komunikasi, dan Informasi) yang berbasis peta digital. Aplikasi ini memungkinkan petugas memantau berbagai titik strategis di jalur mudik, mulai dari lokasi personel polisi, jaringan CCTV, pos pengamanan, hingga fasilitas umum seperti SPBU, tempat ibadah, rumah sakit, bandara, terminal, dan pelabuhan.

Selain itu, jaringan kamera pengawas dari National Traffic Management Center juga terhubung dengan sistem CCTV milik Jasa Marga sehingga petugas dapat memantau kondisi jalan tol secara menyeluruh dari satu pusat kendali.

Dengan integrasi berbagai teknologi tersebut, Kepolisian Negara Republik Indonesia berharap pengawasan arus mudik dapat berjalan lebih efektif, cepat, dan akurat. Upaya ini sekaligus menjadi bagian dari komitmen Polri untuk memastikan perjalanan masyarakat selama musim mudik Lebaran berlangsung aman, lancar, dan nyaman.


Sumber: Humas Polri

Tinggalkan Komentar