Pangdam VI/Mulawarman: Media Kekuatan Besar dalam Perang Informasi
Balikpapan, Gerbangkaltim.com — Peran wartawan dan media massa dinilai semakin strategis di tengah perkembangan teknologi dan perubahan pola konflik modern. Tidak lagi hanya mengandalkan kekuatan militer secara konvensional, perang saat ini juga berlangsung di ruang publik melalui narasi, informasi, hingga media sosial.
Hal tersebut disampaikan Pangdam VI/Mulawarman Mayjen TNI Krido Pramono saat berbincang santai dengan sejumlah wartawan di Warung Makan Yogyakarta Istimewa, Jalan Jenderal Sudirman, Balikpapan, Sabtu (29/8/2026).
Dalam suasana santai, Pangdam menilai media memiliki kekuatan besar dalam membentuk opini publik. Bahkan, menurutnya, kemenangan dalam perang informasi dapat memberikan pengaruh terhadap kemenangan dalam sebuah konflik secara keseluruhan.
“Peperangan tidak hanya kekuatan militer atau kombatan melawan kombatan. Non-kombatan juga terjadi. Seiring kemajuan teknologi dan zaman, berbagai pola dalam peperangan juga berkembang,” ujar Krido.
Ia menjelaskan, konflik modern tidak hanya berkaitan dengan aspek militer. Ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya, hingga informasi menjadi bagian penting yang dapat menentukan arah sebuah konflik.
Menurutnya, media merupakan salah satu kekuatan yang harus dikelola secara bertanggung jawab karena informasi yang disampaikan kepada masyarakat dapat memberikan dampak luas.
“Media adalah kekuatan besar kita bersama untuk memenangkan pertempuran. Sekarang kita bisa melihat, di berbagai negara, bukan hanya di Indonesia, narasi-narasi yang dilontarkan melalui media juga bisa menjadikan suatu konflik menjadi besar,” katanya.
Krido menegaskan, dalam kondisi tertentu, kemenangan di ruang media bahkan dapat menjadi bagian dari kemenangan dalam pertempuran, baik secara fisik maupun nonfisik.
Karena itu, ia berharap wartawan tetap menjalankan fungsi jurnalistik dengan mengedepankan data, fakta, keberimbangan, dan kepentingan masyarakat.
Ia meminta setiap informasi yang disampaikan kepada publik benar-benar menggambarkan kondisi sebenarnya di lapangan. Jika terdapat sesuatu yang baik, menurutnya, hal tersebut juga perlu diberitakan secara jujur. Sebaliknya, jika memang terdapat persoalan atau sesuatu yang tidak baik, media tetap memiliki ruang untuk mengungkapkannya.
“Apabila ada yang memang tidak baik, diberitakan yang tidak baik. Apabila ada yang baik, diberitakan yang baik. Ketika melihat komposisinya, sejauh mana ini baik dan sejauh mana ini jelek, ketika ternyata banyak baiknya, kita harus secara jujur mengekspos yang baik,” tuturnya.
Pangdam juga mengingatkan mengenai bahaya penyebaran informasi yang tidak proporsional, terutama melalui media sosial. Menurutnya, persoalan yang sebenarnya kecil dan sepele dapat berkembang menjadi masalah besar ketika dibungkus dengan narasi yang berlebihan.
Kondisi tersebut semakin berisiko karena generasi saat ini sangat dekat dengan teknologi digital dan media sosial.
“Kadang-kadang masalah yang sebetulnya sepele, kecil, kemudian dikembuskan dengan narasi yang hebat sehingga seolah-olah menjadi besar impact-nya,” ungkapnya.
Ia menilai informasi yang tidak akurat dapat memengaruhi masyarakat, bahkan berpotensi dimanfaatkan untuk melakukan provokasi.
“Generasi-generasi yang sekarang memegang digital, yang mendapatkan informasi melalui media sosial, bisa menjadi terpengaruh. Hal-hal kecil ini bisa menjadi provokasi dan bahkan menjadikan kerugian bagi kita semuanya,” jelas Krido.
Karena itu, ia mengajak wartawan untuk terus menjaga kualitas pemberitaan dan menjadi bagian dari upaya menciptakan suasana yang kondusif di tengah masyarakat.
“Untuk Bapak-bapak wartawan, berikan yang terbaik. Wartawan juga menjadi energi, menjadi bagian dari perang di garis depan secara digital, secara publikasi,” tegasnya.
Lebih jauh, Pangdam menegaskan bahwa masyarakat merupakan salah satu kekuatan penting dalam menjaga stabilitas. Karena itu, hubungan antara aparat, pemerintah, media, dan masyarakat harus dibangun berdasarkan komunikasi yang sehat.
Ia berharap wartawan tidak hanya menjadi penyampai informasi, tetapi juga menjadi bagian dari upaya memberikan pencerahan kepada masyarakat.
“Jatuhnya rakyat itu kekuatan yang terbaik,” ujarnya.
Pesan tersebut sekaligus menjadi penegasan bahwa di tengah derasnya arus informasi digital, kekuatan media tidak dapat dipandang sebelah mata. Berita yang akurat dan berimbang dapat membantu masyarakat memahami persoalan secara utuh, sementara informasi yang tidak terverifikasi berpotensi memperbesar persoalan.
Bagi Pangdam VI/Mulawarman, perang informasi merupakan bagian dari tantangan zaman yang harus dihadapi bersama. Wartawan berada di garis depan dalam ruang publik, sementara tanggung jawab utamanya tetap berpijak pada fakta, keberimbangan, dan kepentingan masyarakat.
Dengan demikian, kebebasan pers dan tanggung jawab jurnalistik harus berjalan beriringan. Sebab, di tengah derasnya informasi dan cepatnya penyebaran narasi melalui media sosial, satu informasi yang keliru dapat memberikan dampak yang jauh lebih besar dibandingkan persoalan awalnya.
BACA JUGA
