Pemkot Balikpapan Tak Ingin MBG Hanya Diukur dari Jumlah Penerima, Dampaknya Akan Dievaluasi

Pemkot Balikpapan
Wakil Wali Kota Balikpapan, Dr Ir H Bagus Susetyo, MM.,

Balikpapan, Gerbangkaltim.com — Pemerintah Kota (Pemkot) Balikpapan, Kalimantan Timur, berencana menyusun indikator untuk mengukur dampak program Makan Bergizi Gratis (MBG) terhadap peserta didik.

Evaluasi tersebut tidak hanya melihat jumlah siswa yang menerima makanan bergizi, tetapi juga perkembangan pertumbuhan, kesehatan, stamina hingga prestasi akademik siswa.

Wakil Wali Kota Balikpapan, Dr Ir H Bagus Susetyo, MM., mengatakan, pengukuran dampak penting dilakukan agar manfaat program MBG dapat diketahui secara lebih konkret.

Menurut dia, program yang mendapat dukungan anggaran besar dari Badan Gizi Nasional (BGN) tersebut perlu memiliki tolok ukur yang jelas.

“Apakah manfaat itu dirasa sekali oleh anak-anak kita, pertumbuhan, berat badan, tinggi badan, kemudian juga kesehatan selama bersekolah, terus yang paling penting lagi apakah prestasinya juga meningkat,” kata Bagus, Senin (7/9/2026).

Cakupan MBG baru 42,57 persen

Rencana evaluasi tersebut dibahas Pemkot Balikpapan bersama BGN setelah dilakukan tindak lanjut kunjungan lapangan ke sejumlah dapur MBG atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Balikpapan.
Dalam pembahasan itu, Pemkot meminta informasi mengenai perkembangan SPPG yang telah beroperasi, dapur yang masih dalam proses, serta jumlah penerima manfaat MBG.

Bagus mengungkapkan, hingga 17 Agustus 2026, jumlah penerima manfaat MBG di Balikpapan baru sekitar 82.000 orang.

Jumlah tersebut masih jauh dari total sasaran yang mencapai hampir 194.000 siswa dan kelompok 3B.
Dengan jumlah tersebut, cakupan penerima manfaat MBG di Balikpapan baru sekitar 42,57 persen.

“Yang harus menerima manfaat hampir 194.000 siswa, kemudian 3B. Tetapi sampai dengan 17 Agustus kemarin datanya baru 82.000. Jadi baru 42,57 persen manfaat yang bisa diberikan BGN terhadap siswa sekolah yang ada di Kota Balikpapan,” ujar Bagus.

Pemkot dorong penambahan SPPG

Selain mengevaluasi dampak program, Pemkot Balikpapan juga mendorong perluasan cakupan penerima MBG.
Saat ini terdapat 36 SPPG yang telah beroperasi. Sementara itu, dua dapur berstatus suspend dan 10 dapur lainnya masih dalam proses.

Sejumlah calon dapur lainnya masih menunggu keputusan BGN pusat, termasuk terkait kebijakan penambahan SPPG baru.

Bagus mengatakan, salah satu kendala perluasan cakupan MBG adalah penghentian sementara penambahan dapur baru setelah adanya pergantian pimpinan di tingkat BGN.

Di sisi lain, dua dapur yang berstatus suspend juga masih menunggu pemenuhan sejumlah persyaratan agar dapat kembali beroperasi.
Pemkot, kata Bagus, berharap persoalan tersebut dapat segera diselesaikan sehingga cakupan penerima MBG di Balikpapan semakin luas.

Pemkot juga berencana menyurati pemerintah pusat agar kebijakan moratorium penambahan dapur dapat ditinjau kembali, terutama bagi wilayah yang memiliki persoalan stunting.

“Kita akan membuat surat karena kita ingin di daerah yang stunting maksimal itu kita berikan, supaya moratorium itu bisa dicabut, sehingga bisa lebih besar atau lebih banyak lagi siswa yang mendapatkan manfaat,” jelasnya.

Dampak MBG akan dipantau di sekolah

Untuk mengetahui efektivitas program, Pemkot Balikpapan berencana mendorong setiap sekolah memiliki laporan perkembangan peserta didik setelah memperoleh MBG.
Laporan tersebut nantinya dapat digunakan untuk melihat perubahan kondisi siswa, mulai dari pertumbuhan fisik hingga kemampuan mengikuti kegiatan belajar.

Sejumlah indikator yang akan diperhatikan meliputi berat badan, tinggi badan, stamina, kondisi kesehatan selama mengikuti pembelajaran, serta kemungkinan perubahan prestasi akademik.

Namun, Bagus menegaskan, mekanisme evaluasi tersebut tidak boleh menambah beban administrasi bagi guru maupun kepala sekolah.

“Intinya tidak membebani kepala sekolah atau guru sekolah, tapi paling tidak setiap sekolah ada contoh untuk laporan perkembangan mengenai makan bergizi gratis ini terhadap perkembangan stamina, perkembangan tumbuh kembang anak-anak kita,” terang Bagus.

Dengan evaluasi tersebut, Pemkot Balikpapan berharap pelaksanaan MBG tidak berhenti pada pemenuhan kebutuhan makanan bagi siswa, tetapi juga dapat dibuktikan dampaknya terhadap kualitas tumbuh kembang dan proses pendidikan anak. (HP/Adv Kominfo Balikpapan).

Tinggalkan Komentar