Profil Dirpolairud Polda Kaltim: Kombes Pol Restika Nainggolan, Terinspirasi Sang Ayah Hingga Memimpin Pengamanan Perairan
Balikpapan, Gerbangkaltim.com — Perjalanan karier Direktur Polisi Perairan dan Udara (Dirpolairud) Polda Kalimantan Timur, Kombes Pol Restika Pardamaean Nainggolan, tidak terlepas dari pengaruh besar sang ayah yang juga merupakan anggota kepolisian. Inspirasi dari keluarga itu menjadi fondasi awal yang membawanya meniti karier panjang di institusi Polri hingga kini memimpin Direktorat Polairud Polda Kaltim.
Restika mengungkapkan bahwa keinginannya menjadi polisi muncul sejak masa sekolah menengah atas. Sosok ayah yang disiplin dan berdedikasi menjadi teladan yang memotivasi dirinya mengikuti jejak tersebut.
“Orang tua saya kebetulan anggota polisi. Jadi yang memotivasi saya masuk kepolisian adalah bapak saya. Bagi saya, orang tua pasti menjadi role model,” ujarnya, Sabtu (14/3/2026).
Perwira menengah Polri kelahiran Bogor, 1976 itu merupakan anak pertama dari empat bersaudara. Ia berasal dari keluarga dengan latar belakang budaya yang berbeda. Ayahnya berdarah Batak dari Sumatera Utara, sementara ibunya berasal dari keluarga Melayu Pekanbaru, Riau.
Meski lahir di Bogor, masa kecil hingga remaja Restika lebih banyak dihabiskan di Malang dan Pekanbaru mengikuti penugasan orang tuanya.
“Di Bogor saya hanya lahir saja. Besarnya di Malang dan Pekanbaru karena orang tua bertugas di sana. Saya juga SMA di Pekanbaru,” katanya.
Awal Karier di Kepolisian
Restika mulai meniti karier di Polri pada 1998. Ia mendaftar melalui jalur penerimaan di Jawa Timur dan langsung diterima pada kesempatan pertama.
“Pertama kali daftar langsung diterima. Waktu itu lewat Jawa Timur,” ungkapnya.
Penugasan pertamanya juga berlangsung di Pekanbaru. Sejak saat itu, ia telah menjalani berbagai penugasan di sejumlah daerah dengan pengalaman yang beragam.
Salah satu pengalaman yang paling berkesan baginya adalah saat terlibat langsung dalam pengamanan aksi demonstrasi.
“Kalau kita pengamanan demo itu kan langsung berhadapan dengan masyarakat,” ujarnya.
Selama berdinas, Restika juga pernah bertugas cukup lama di Kalimantan Selatan. Di provinsi tersebut, ia pernah menjabat Kepala Sekolah Polisi Negara (KSPN) serta Kabag Ops yang menuntut kemampuan koordinasi tinggi.
Menurutnya, posisi Kabag Ops merupakan salah satu tugas yang cukup menantang karena harus mengelola administrasi sekaligus mengoordinasikan pengamanan berbagai kegiatan di lapangan.
“Di Kabag Ops itu benar-benar diuji. Selain administrasi, kita juga harus mengoordinasikan pengamanan di lapangan,” katanya.
Tantangan semakin terasa saat menghadapi momentum politik seperti pemilihan umum dan pemilihan presiden yang membutuhkan pengamanan intensif dalam jangka waktu panjang.
“Pemilu itu lima tahun sekali, tapi tahapannya panjang. Apalagi pemilihan kepala desa, itu kadang lebih rumit karena dinamika masyarakatnya langsung terasa di lokasi,” jelasnya.
Nasihat Ayah yang Menjadi Pegangan
Sebagai anak dari seorang polisi, Restika mengaku banyak mendapatkan nasihat yang terus ia pegang hingga kini. Ia menggambarkan ayahnya sebagai sosok yang tegas dan disiplin, namun selalu mengajarkan rasa syukur dalam menjalani kehidupan.
“Ayah saya orangnya keras, polisi zaman dulu. Tapi beliau selalu bersyukur dengan apa yang didapat,” katanya.
Salah satu pesan yang selalu diingat adalah pentingnya menjaga hubungan baik di lingkungan kerja, baik dengan pimpinan maupun anggota.
“Pesannya sederhana, jangan melawan pimpinan, jaga hubungan baik dengan anggota, dan laksanakan tugas dengan baik,” ujarnya.
Tantangan Memimpin Polairud Polda Kaltim
Kini sebagai Dirpolairud Polda Kaltim, Restika menghadapi tantangan yang berbeda dibandingkan tugas kepolisian di darat. Wilayah perairan di Kalimantan Timur memiliki potensi kerawanan yang cukup tinggi, mulai dari kecelakaan di sungai hingga konflik yang melibatkan aktivitas masyarakat di perairan.
“Dalam satu setengah bulan saya di Polairud ini sudah ada beberapa kejadian, seperti masyarakat diterkam buaya, orang tenggelam di sungai, hingga kecelakaan kapal,” ungkapnya.
Ia mencontohkan peristiwa kapal yang miring hingga tenggelam di Sungai Mahakam yang sempat menjadi perhatian aparat.
Menurutnya, penanganan kejadian di wilayah perairan membutuhkan koordinasi lintas instansi.
“Kita tidak bisa bekerja sendiri. Harus bersama-sama dengan instansi terkait seperti KSOP dan pemerintah daerah,” katanya.
Saat ini Direktorat Polairud Polda Kaltim memiliki sekitar 265 personel yang tersebar di berbagai wilayah perairan di provinsi tersebut.
Ke depan, Restika berharap jajarannya dapat meningkatkan pengawasan sekaligus memberikan edukasi kepada masyarakat yang beraktivitas di perairan.
“Selain penegakan hukum, kita juga ingin memberikan pelayanan kepada masyarakat pengguna transportasi air serta mengedukasi mereka agar lebih waspada terhadap cuaca dan potensi bahaya di sungai,” ujarnya.
Menjaga Kebugaran di Tengah Kesibukan
Di tengah kesibukan sebagai pejabat kepolisian, Restika tetap berusaha menjaga kebugaran tubuh dengan rutin berolahraga. Ia mengaku gemar bermain tenis dan bersepeda, biasanya dilakukan pada akhir pekan atau di sela aktivitas dinas.
“Kalau tidak bersepeda, biasanya saya main tenis,” katanya.
Selain itu, ia juga memiliki hobi memancing, meskipun tidak selalu memiliki waktu untuk melakukannya.
Saat bersepeda jarak jauh hingga 30–40 kilometer, Restika biasanya mendengarkan musik untuk menjaga semangat. Ia mengaku menyukai musik rock era 1990-an seperti Metallica, Guns N’ Roses, hingga Roxette.
“Biasanya dengar lagu-lagu lama yang bisa memacu semangat,” ujarnya.
Dalam dunia olahraga tenis, ia juga mengidolakan petenis legendaris dunia, Roger Federer.
Menurutnya, Federer memiliki gaya bermain yang elegan sekaligus sulit ditebak. Dengan pengalaman panjang di kepolisian dan kepemimpinan yang kini diembannya, Restika berharap Direktorat Polairud Polda Kaltim dapat terus meningkatkan pengamanan wilayah perairan serta memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat yang menggantungkan aktivitasnya di sungai dan laut.
BACA JUGA
