Proyek Manpatu PHM Masuk Tahap Strategis, Jacket Berhasil Load Out dan Siap Sail Away

Proyek Manpatu PHM
Proses load out struktur jacket Proyek Manpatu oleh PT Pertamina Hulu Mahakam di fasilitas fabrikasi Tanjung Pinang, menandai tahap penting menuju instalasi offshore di wilayah Mahakam.

Gerbangkaltim.com, Balikpapan – Proyek pengembangan Manpatu yang digarap PT Pertamina Hulu Mahakam terus menunjukkan progres signifikan. Terbaru, proyek ini berhasil memasuki tahapan penting berupa proses load out struktur jacket yang dilaksanakan di fasilitas fabrikasi milik PT Meindo Elang Indah di Tanjung Pinang, Kepulauan Riau, pada 26 Maret 2026.

Tahapan load out ini menjadi kelanjutan dari proses first cut of steel yang dimulai sejak Mei 2025. Selanjutnya, struktur jacket tersebut akan memasuki fase sail away menuju lokasi instalasi di lapangan offshore South Mahakam, sekitar 35 kilometer dari pesisir Balikpapan, Kalimantan Timur.

Proyek Manpatu sendiri merupakan pengembangan dari temuan sumur eksplorasi Manpatu-1x yang ditemukan pada 2022. Lapangan ini berada di wilayah kerja Mahakam dengan kedalaman laut mencapai 50–60 meter. Proyek tersebut dirancang untuk meningkatkan produksi gas dan kondensat dengan kapasitas desain hingga 80 MMSCFD.

Dalam lingkup pengerjaannya, proyek ini mencakup pembangunan satu anjungan baru yang terdiri dari struktur jacket dan topside dengan total bobot lebih dari 2.400 ton. Selain itu, terdapat pula pekerjaan pemasangan pipa bawah laut sepanjang 2,5 kilometer berdiameter 14 inci, serta pengeboran 11 sumur pengembangan dengan tingkat kompleksitas tinggi.

General Manager PHM, Setyo Sapto Edi, menegaskan bahwa proyek ini merupakan bagian dari komitmen perusahaan dalam mendukung target produksi migas nasional. Ia menyebutkan bahwa inovasi teknologi dan penerapan standar industri terbaik terus dioptimalkan dalam setiap tahap pengerjaan.

“Investasi berkelanjutan serta penerapan teknologi mutakhir menjadi kunci dalam menjaga keberlanjutan produksi migas nasional,” ujarnya.

Tak hanya dari sisi produksi, proyek ini juga mencatat pencapaian penting dalam peningkatan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN). PHM untuk pertama kalinya menerapkan penggunaan pipa lokal jenis Electric Resistance Welding (ERW) secara menyeluruh, mulai dari sistem subsea hingga riser dan pipe bend.

Dari aspek keselamatan kerja, proyek ini juga mencatatkan kinerja impresif dengan lebih dari dua juta jam kerja tanpa insiden kehilangan waktu kerja (Lost Time Incident/LTI) hingga Maret 2026. Total jam kerja diproyeksikan akan mencapai lebih dari tiga juta jam hingga proyek rampung.

Proyek Manpatu tergolong proyek fast track dengan jadwal ketat sejak tahap penemuan hingga pengembangan. Keberhasilan proyek ini tidak lepas dari sinergi berbagai pihak, termasuk kontraktor Engineering, Procurement, Supply, Construction, and Commissioning (EPSCC).

Ke depan, PHM menargetkan proses instalasi jacket dan topside dapat dilakukan pada April hingga Mei 2026. Seluruh platform diharapkan terpasang pada awal kuartal III 2026, dengan target mulai produksi (onstream) pada kuartal I 2027.

Sebagai bagian dari PT Pertamina Hulu Indonesia, PHM terus berkomitmen menjalankan operasional hulu migas berbasis prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) guna mendukung ketahanan energi nasional secara berkelanjutan.


Sumber: PT Pertamina Hulu Indonesia (PHI)

Tinggalkan Komentar