Dari Balik Jeruji ke Panggung Kideco Run, Band Warga Binaan Bikin Wagub Seno Aji Kaget

 

PASER, Gerbangkaltim– Dentuman musik mulai terdengar di tengah riuh ribuan peserta Kideco Run 2026. Panggung hiburan di halaman Kantor Bupati Paser, Minggu (6/9/2026), seketika menjadi pusat perhatian.
Namun, bukan hanya musik dan penampilan para personel band yang membuat suasana pagi itu berbeda. Ada sebuah fakta yang kemudian membuat salah satu tamu kehormatan terkejut.

Grup band yang tampil di hadapan sekitar 4.500 peserta tersebut ternyata beranggotakan warga binaan Rumah Tahanan Negara (Rutan) Tanah Grogot.
Mereka tergabung dalam Prison Art Institute, kelompok musik binaan Rutan Tanah Grogot yang diberi kesempatan tampil dalam perhelatan Kideco Run 2026, rangkaian menyambut Hari Ulang Tahun ke-44 PT Kideco Jaya Agung.

Bagi Rutan Tanah Grogot, kesempatan tersebut bukan sekadar tampil di atas panggung. Lebih dari itu, menjadi ruang untuk memperlihatkan kepada masyarakat bahwa proses pembinaan di balik tembok rutan juga mampu melahirkan karya.

Kepala Rutan Tanah Grogot, Aris Triyanto, mengatakan Prison Art Institute mendapat mandat resmi dari PT Kideco Jaya Agung untuk turut memeriahkan kegiatan tersebut.

“Alhamdulillah Prison Art kembali mendapatkan kesempatan untuk tampil di acara yang sangat prestisius Kideco Run 2026. Kami diminta langsung oleh pihak Kideco. Ini menjadi momentum penting karena masyarakat bisa langsung melihat pembinaan kami yang ada di rutan,” ujar Aris.

 


Sejak pagi, kawasan halaman Kantor Bupati Paser di Jalan Noto Sunardi, Kecamatan Tanah Grogot, memang telah dipadati masyarakat.
Sekitar pukul 05.00 Wita, para peserta mulai berdatangan. Mereka bersiap mengikuti ajang lari yang menjadi bagian dari rangkaian perayaan 44 tahun kiprah Kideco di Kabupaten Paser.
Di tengah semangat ribuan pelari itulah Prison Art Institute mendapat kesempatan menunjukkan kemampuan.

Penampilan mereka sekaligus menjadi gambaran bahwa pembinaan warga binaan tidak selalu identik dengan aktivitas di balik tembok. Ada keterampilan, kreativitas, dan potensi yang terus diasah untuk menjadi bekal ketika mereka kembali ke tengah masyarakat.

Kasubsi Pelayanan Tahanan Rutan Tanah Grogot, Irnas Muhammad, menjelaskan kesempatan warga binaan tampil di luar rutan bukan diberikan begitu saja. Ada prosedur administratif dan substantif yang harus dipenuhi, termasuk assessment terhadap warga binaan serta persetujuan dari Kantor Wilayah.

“Betul sekali, band ini berisikan warga binaan tentunya yang memenuhi syarat, baik administratif dan substantif. Kita lakukan assessment dan juga atas restu Kantor Wilayah. Alhamdulillah kita bisa tampil di panggung besar ini,” kata Irnas.

Menurutnya, seluruh upaya tersebut dilakukan agar program pembinaan di Rutan Tanah Grogot dapat diketahui masyarakat secara lebih luas.

“Segala effort kita lakukan agar program pembinaan di Rutan Grogot bisa tersampaikan ke khalayak luas,” sambungnya.

Terharu Melihat Kesempatan Kedua
Penampilan Prison Art Institute ternyata mendapat perhatian khusus dari jajaran pimpinan PT Kideco Jaya Agung.

Presiden Direktur PT Kideco Jaya Agung, M. Kurnia Ariawan, mengaku memiliki alasan tersendiri mengapa kelompok musik yang beranggotakan warga binaan tersebut terus diberi ruang untuk tampil dalam berbagai kegiatan.

Baginya, setiap orang memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri.
“Jujur saya sangat terharu setiap melihat penampilan Prison Art Institute. Kenapa saya selalu libatkan mereka karena saya berprinsip, mereka punya kesempatan kedua untuk berubah,” ujar Kurnia.

Menurut Kurnia, warga binaan juga membutuhkan ruang untuk menunjukkan kemampuan dan prestasinya kepada masyarakat.

Kesempatan tampil di panggung besar, menurutnya, menjadi bagian dari upaya memberikan kepercayaan sekaligus membuka ruang agar stigma terhadap mantan narapidana perlahan dapat berubah.

Dan pesan itu seolah menemukan momentumnya ketika Wakil Gubernur Kalimantan Timur Seno Aji menyaksikan langsung penampilan Prison Art Institute.
Seno Aji mengaku tidak menyangka band yang tampil memukau di hadapan ribuan masyarakat tersebut merupakan grup musik binaan Rutan Tanah Grogot.

“Saya kaget dan bangga. Ternyata mereka ini merupakan terpidana, selalu bergerak aktif, bergerak positif. Lagunya sangat bagus-bagus, vokalisnya top,” kata Seno Aji.
Ia pun menyampaikan pesan sederhana kepada para warga binaan yang tergabung dalam Prison Art Institute.

“Saya cuma minta satu, setelah selesai menjalani pidana, terus berkarya menjadi pribadi yang lebih baik,” ujarnya.

Dari Balik Jeruji ke Panggung
Panggung Kideco Run 2026 akhirnya menjadi lebih dari sekadar tempat hiburan.
Di sana, musik mempertemukan ribuan masyarakat dengan sebuah cerita tentang pembinaan, harapan dan kesempatan kedua.
Para personel Prison Art Institute mungkin datang dari tempat yang berbeda dengan kebanyakan pengisi acara. Mereka berasal dari balik jeruji Rutan Tanah Grogot.

Namun pagi itu, mereka berdiri di panggung yang sama, memainkan musik yang sama, dan mendapatkan apresiasi yang sama dari masyarakat.Tepuk tangan yang mengiringi penampilan mereka menjadi pesan sederhana bahwa karya dapat menjadi jembatan untuk kembali diterima.

Kideco Run 2026 sendiri digelar sebagai bagian dari rangkaian peringatan HUT ke-44 PT Kideco Jaya Agung yang jatuh pada 9 September 2026.

Selama 44 tahun hadir di Paser, Kideco telah menjadi bagian dari perjalanan pembangunan daerah, termasuk melalui kontribusinya terhadap sektor ketenagakerjaan dan perekonomian.
Dan pada Kideco Run 2026, ribuan langkah kaki peserta bukan satu-satunya cerita yang tertinggal.

Ada pula langkah kecil warga binaan menuju kehidupan yang lebih baik—dimulai dari sebuah panggung, sebuah lagu, dan kesempatan untuk membuktikan bahwa setiap orang masih memiliki ruang untuk berubah. (Gk)

Tinggalkan Komentar