KPB Serahkan 20 Komposter, Dorong Pengurangan Sampah dari Sumbernya

Pertamina
PT Kilang Pertamina Balikpapan (KPB) menyerahkan bantuan 20 unit komposter untuk mendukung program Clean, Green and Healthy (CGH) Kota Balikpapan 2026. Kamis (1/10/2026).

Balikpapan, Gerbangkaltim.com – Persoalan sampah di Kota Balikpapan masih menjadi pekerjaan rumah yang membutuhkan keterlibatan berbagai pihak. Pemerintah daerah mencatat timbulan sampah di kota tersebut mencapai sekitar 550 ton per hari.

Di tengah kondisi tersebut, PT Kilang Pertamina Balikpapan (KPB) menyerahkan bantuan 20 unit komposter untuk mendukung program Clean, Green and Healthy (CGH) Kota Balikpapan 2026.

Bantuan tersebut diserahkan Vice President Legal & Relation KPB Asep Sulaeman dan didistribusikan kepada kelurahan yang mengikuti program CGH. Komposter diharapkan dapat digunakan untuk mengolah sampah organik langsung dari sumbernya.

Asep mengatakan dukungan tersebut merupakan bagian dari komitmen KPB untuk ikut menjaga lingkungan sekaligus mendorong keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan sampah.

“Melalui dukungan ini, KPB berharap masyarakat semakin terdorong untuk mengurangi dan mengelola sampah sejak dari sumbernya, serta meningkatkan partisipasi dalam menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan,” kata Asep.

Menurut dia, pengelolaan sampah tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah. Dibutuhkan kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, komunitas, dan masyarakat agar kebiasaan hidup bersih dan sehat dapat berjalan secara berkelanjutan.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Balikpapan Sudirman Djayaleksana mengatakan program CGH telah berjalan sejak sekitar 2007–2008. Program tersebut diarahkan untuk membangun kemandirian masyarakat dalam menjaga lingkungan, terutama di tingkat rukun tetangga (RT).

Pada 2026, kompetisi CGH diikuti sekitar 126 RT yang berasal dari 24 kelurahan. Jumlah tersebut masih lebih sedikit dibandingkan total 34 kelurahan yang ada di Balikpapan.

Sudirman mengatakan pelaksanaan program lingkungan tidak bisa hanya mengandalkan lurah, ketua RT, maupun masyarakat.

“CGH ini tidak bisa hanya bertumpu pada lurah, ketua RT, dan warga. Perlu dukungan dari berbagai pihak, termasuk dunia usaha,” ujarnya.

Ia menyebut kebutuhan pembiayaan pengelolaan sampah Balikpapan dari hulu hingga hilir mencapai sekitar Rp95 miliar hingga Rp100 miliar setiap tahun. Anggaran tersebut setara sekitar 3 persen dari total APBD Kota Balikpapan.

Dari timbulan sampah sekitar 550 ton per hari, Balikpapan mencatat tingkat pengurangan sampah sekitar 34 persen pada 2025. Angka tersebut berada di atas target 30 persen dalam RPJMN.

Namun, pemerintah masih menghadapi tantangan untuk meningkatkan pengurangan sampah yang masuk ke tempat pemrosesan akhir (TPA). Targetnya, pengurangan sampah ke TPA dapat mencapai sedikitnya 50 persen pada 2029 sesuai kebijakan Kementerian Lingkungan Hidup.

Salah satu upaya yang didorong adalah pengolahan sampah organik dari sumbernya. Komposter menjadi salah satu sarana yang dapat digunakan masyarakat untuk mengubah sampah organik menjadi kompos.

“Harapannya, sampah organik bisa diolah menjadi kompos sehingga yang masuk ke TPA benar-benar hanya sampah residu,” kata Sudirman.

Selain persoalan fasilitas, keberadaan bank sampah juga menjadi bagian penting dalam pengurangan sampah. Sudirman menyebut jumlah bank sampah aktif di Balikpapan kini sekitar 60 hingga 65 unit.

Jumlah tersebut menurun dibandingkan sebelum pandemi Covid-19 yang mencapai sekitar 120 hingga 170 unit.

Dukungan KPB terhadap pengelolaan lingkungan di Balikpapan sebelumnya juga dilakukan melalui berbagai program. Pada 2025, KPB bersama DLH melalui UPTD TPAS Manggar merevitalisasi fasilitas edukasi pengolahan sampah organik berbasis budidaya maggot melalui program OMAYGOT atau Omah Budidaya Maggot.

Setahun sebelumnya, KPB bersama DLH juga menyalurkan 50 gerobak sampah. Perusahaan turut memfasilitasi kebutuhan kelurahan dan sekolah, mulai dari gerobak sampah hingga tempat sampah terpilah.
Di bidang penghijauan, KPB bersama DLH juga melakukan penanaman pohon peneduh, pohon endemik, hingga mangrove.

Sejak 2023, sekitar 2.096 pohon telah ditanam. Jenisnya antara lain tabebuya, eucalyptus, pulai, meranti, asem jawa, angsana, anting putri, elai, bambu, dan mangrove.

Sudirman mengapresiasi dukungan KPB dan berharap kerja sama tersebut terus diperkuat, khususnya dalam pelaksanaan program CGH.

“Kerja sama dengan KPB selama ini berjalan sangat baik. Kami berharap kemitraan ini terus ditingkatkan dan pihak swasta lainnya juga ikut mengisi ruang-ruang pelestarian lingkungan,” ujarnya.

Dukungan tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga keberlanjutan lingkungan di tengah berjalannya proyek pengembangan kilang Balikpapan. KPB menyatakan kehadirannya tidak hanya berkaitan dengan pembangunan fasilitas kilang, tetapi juga dengan kontribusi terhadap lingkungan dan masyarakat di sekitar wilayah operasional.

Tinggalkan Komentar