UMKM Balikpapan Diajak Masuk Ekonomi Hijau dan AI

UMKM Balikpapan ekonomi hijau
Staf Khusus Presiden Bidang UMKM dan Teknologi Digital, Tiar Nabilla Karbala, berdialog dengan pelaku UMKM di Balikpapan terkait ekonomi hijau, digitalisasi, dan pemanfaatan kecerdasan buatan untuk meningkatkan daya saing usaha.

Gerbangkaltim.com, Balikpapan – UMKM Balikpapan ekonomi hijau menjadi salah satu fokus utama dalam dialog yang menghadirkan Staf Khusus Presiden Bidang UMKM dan Teknologi Digital, Tiar Nabilla Karbala, di Kota Balikpapan. Dalam kegiatan yang diinisiasi komunitas anak muda Gerbangtara, para pelaku usaha didorong untuk mulai menerapkan prinsip ekonomi hijau dan memanfaatkan teknologi digital guna meningkatkan daya saing usaha di tengah perubahan ekonomi global.

Kegiatan yang berlangsung di Aula Pemerintah Kota Balikpapan pada Jumat, 6 Juni 2026, mempertemukan puluhan pelaku UMKM, komunitas usaha, generasi muda, serta berbagai pemangku kepentingan. Forum tersebut menjadi ruang diskusi terbuka mengenai tantangan yang masih dihadapi UMKM, mulai dari akses pasar, transformasi digital, sertifikasi usaha, hingga penerapan praktik bisnis yang berkelanjutan.

Dalam pemaparannya, Tiar Nabilla Karbala menegaskan bahwa tantangan utama UMKM saat ini tidak semata-mata berkaitan dengan keterbatasan modal. Menurutnya, kebutuhan terbesar justru terletak pada akses pasar yang lebih luas, strategi bisnis yang tepat, penguatan manajemen usaha, serta pendampingan yang berkelanjutan.

Ia menilai banyak pelaku usaha yang sebenarnya memiliki produk berkualitas, namun belum mampu menembus pasar yang lebih besar karena keterbatasan pengetahuan pemasaran dan pemanfaatan teknologi. Oleh sebab itu, dukungan ekosistem usaha yang kuat dinilai menjadi faktor penting dalam mempercepat pertumbuhan sektor UMKM.

Pada kesempatan tersebut, Tiar juga mengajak para pelaku usaha untuk mulai memahami konsep ekonomi hijau yang saat ini menjadi perhatian pemerintah. Menurutnya, penerapan praktik usaha yang ramah lingkungan tidak hanya memberikan dampak positif bagi keberlanjutan lingkungan, tetapi juga dapat meningkatkan nilai tambah produk di mata konsumen.

Ia menjelaskan bahwa tren pasar saat ini menunjukkan semakin banyak konsumen dan investor yang mempertimbangkan aspek keberlanjutan dalam menentukan pilihan produk maupun investasi. Karena itu, UMKM yang mampu mengadopsi prinsip ekonomi hijau berpotensi memiliki daya saing lebih tinggi, baik di pasar nasional maupun internasional.

Meski demikian, Tiar mengakui implementasi ekonomi hijau masih menghadapi sejumlah hambatan. Beberapa di antaranya adalah biaya penerapan yang relatif tinggi serta belum optimalnya penyerapan pasar terhadap produk-produk yang mengedepankan aspek keberlanjutan.

Menurutnya, visi transisi ekonomi berkelanjutan yang menjadi perhatian Presiden Prabowo Subianto memerlukan dukungan seluruh pihak. Pemerintah, dunia usaha, lembaga keuangan, hingga masyarakat perlu membangun ekosistem yang mendukung UMKM agar mampu bertransformasi menuju ekonomi hijau tanpa menambah beban yang berlebihan.

Dalam sesi dialog, sejumlah pelaku UMKM juga menyampaikan aspirasi terkait proses sertifikasi halal dan kewajiban pelaporan melalui sistem Online Single Submission (OSS). Beberapa peserta menilai masih terdapat kendala administratif yang cukup menyulitkan bagi pelaku usaha mikro.

Menanggapi hal tersebut, Tiar menyatakan seluruh masukan akan menjadi bahan evaluasi dan disampaikan kepada pemerintah agar kebijakan yang diterapkan tetap berpihak pada pengembangan UMKM sekaligus menjaga kemudahan berusaha.

Selain membahas ekonomi hijau, Tiar turut mendorong peningkatan literasi digital di kalangan UMKM. Ia menilai pemanfaatan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) dapat membantu pelaku usaha meningkatkan efisiensi operasional dan memperluas jangkauan pemasaran.

Teknologi AI, kata dia, dapat digunakan untuk menyusun laporan keuangan, membuat materi promosi, mengembangkan website usaha, hingga membantu strategi pemasaran digital yang lebih efektif. Dengan kemampuan tersebut, UMKM dapat bekerja lebih cepat dan efisien tanpa harus mengeluarkan biaya besar.

Sebagai bagian dari transformasi digital, Tiar juga memperkenalkan penggunaan microsite UMKM yang memungkinkan pelaku usaha menampilkan katalog produk, lokasi usaha, serta informasi kontak dalam satu platform sederhana yang mudah diakses konsumen.

Dialog berlangsung interaktif dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan, termasuk Pemerintah Kota Balikpapan, Otorita IKN, perbankan daerah, serta pelaku industri pasar modal. Kegiatan tersebut menjadi wadah kolaborasi untuk memperkuat peran UMKM sebagai motor penggerak ekonomi daerah sekaligus mendukung agenda pembangunan ekonomi berkelanjutan di Indonesia.

Tinggalkan Komentar