Belajar dari Dasar, Warga Binaan Lapas Banjarmasin Perdalam Tahsin Al-Qur’an
Banjarmasin, Gerbangkaltim.com – Belasan warga binaan Lapas Kelas IIA Banjarmasin mengikuti pembelajaran Tahsin Al-Qur’an di Masjid Baabut Taqwa, Rabu (2/9/2026).
Pembelajaran tersebut dimulai dari materi dasar untuk memastikan peserta mampu mengenali sekaligus melafalkan huruf Al-Qur’an dengan tepat.
Kegiatan yang digelar rutin setiap Rabu itu merupakan bagian dari program pembinaan kepribadian warga binaan. Pelaksanaannya dilakukan Lapas Kelas IIA Banjarmasin bekerja sama dengan Kementerian Agama Kota Banjarmasin.
Sebanyak 10 pembimbing mendampingi peserta yang dibagi ke dalam 10 kelompok. Pembagian tersebut dilakukan agar proses pembelajaran lebih terarah dan pendampingan dapat disesuaikan dengan kemampuan masing-masing warga binaan.
Kepala Subseksi Bimbingan Kemasyarakatan dan Perawatan (Bimkemaswat) Lapas Kelas IIA Banjarmasin Muhammad Ansyari mengatakan, pembelajaran secara berkelompok diharapkan membuat warga binaan lebih mudah memahami materi yang diberikan.
“Secara keseluruhan, kegiatan Tahsin Al-Qur’an ini kami laksanakan secara rutin sebagai bagian dari pembinaan kepribadian warga binaan. Dengan pembagian kelompok dan pendampingan pembimbing, proses belajar bisa lebih terarah,” ujar Ansyari.
Materi pembelajaran kali ini menggunakan Jilid 1 yang berfokus pada pengenalan bentuk dan bunyi huruf. Materi dasar tersebut dinilai penting karena terdapat sejumlah huruf yang memiliki bentuk maupun suara yang hampir serupa.
Salah satu pembimbing, Lilmushthafa Ridhallatih, S.Ag., MA, mengatakan peserta tidak hanya diarahkan untuk mengenali huruf, tetapi juga memahami sifat setiap huruf ketika dilafalkan.
“Di Jilid 1 ini kita kembali kepada hal yang fundamental, yaitu mengenal bentuk huruf dan bagaimana bunyi huruf tersebut ketika dilafalkan. Ada beberapa huruf yang bentuknya hampir mirip, begitu juga dengan bunyinya yang hampir serupa,” katanya.
Menurut dia, pemahaman terhadap sifat huruf menjadi bagian penting dalam tahsin karena setiap huruf memiliki karakter pengucapan yang perlu diperhatikan.
“Bukan hanya bentuk dan bunyinya yang harus diperhatikan, tetapi juga sifat huruf. Ini penting supaya setiap huruf dapat keluar dengan karakter dan pengucapan yang tepat,” lanjut Lilmushthafa.
Salah seorang warga binaan, RS, mengaku pembelajaran tersebut membuatnya lebih memahami perbedaan sejumlah huruf yang sebelumnya kerap tertukar saat membaca Al-Qur’an.
“Di sini saya baru lebih sadar ternyata ada huruf yang kelihatannya mirip dan suaranya juga hampir sama. Kadang sebelumnya saya masih suka tertukar. Setelah belajar pelan-pelan, jadi lebih tahu cara membedakannya,” ujarnya.
Ia pun berharap dapat terus memperbaiki kemampuan membaca Al-Qur’an melalui pembelajaran yang dilakukan secara bertahap.
“Yang penting sekarang saya mau belajar dari dasar dulu. Kalau sudah lebih lancar dan benar, mudah-mudahan nanti bacaan saya juga semakin bagus,” kata RS.
Sementara itu, Kepala Lapas Kelas IIA Banjarmasin Akhmad Herriansyah mengatakan pembinaan keagamaan tidak hanya diarahkan pada pelaksanaan kegiatan ibadah, tetapi juga pada peningkatan pemahaman dan kemampuan warga binaan.
“Pembinaan keagamaan kami arahkan tidak hanya pada kegiatan, tetapi juga pada proses belajar yang benar. Dengan adanya pembimbing dari Kementerian Agama, warga binaan bisa mendapatkan pendampingan secara bertahap dan memperbaiki bacaan Al-Qur’an dari dasar,” ujar Akhmad.
Menurut Akhmad, pembelajaran yang dimulai dari fondasi dasar menjadi bagian penting agar warga binaan memiliki kemampuan membaca Al-Qur’an yang lebih baik dan dapat menerapkannya secara berkelanjutan.
“Proses belajar dari dasar ini penting. Kami ingin warga binaan tidak sekadar mengikuti kegiatan, tetapi benar-benar mendapatkan kemampuan yang bisa mereka bawa dan terus kembangkan,” katanya.
Kegiatan Tahsin Al-Qur’an tersebut menjadi salah satu bentuk pembinaan kepribadian yang diberikan secara konsisten kepada warga binaan Lapas Banjarmasin. Melalui pembelajaran rutin setiap pekan, kemampuan membaca Al-Qur’an diharapkan dapat meningkat secara bertahap, sekaligus menjadi bagian dari proses pembentukan sikap dan kepribadian selama menjalani masa pembinaan.
BACA JUGA
