Judul : Garuda di Dada, Harimau Malaya di Perut: Sebuah Perlawanan melalui Energi
SEBATIK, NUNUKAN – “Garuda di dadaku, Harimau Malaya di perutku.” Ungkapan ini telah lama melekat dalam kehidupan masyarakat Pulau Sebatik, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara. Sebuah gambaran tentang kecintaan terhadap Tanah Air yang berjalan beriringan dengan realitas kehidupan masyarakat perbatasan yang masih bergantung pada ketersediaan kebutuhan pokok dan energi dari negara tetangga.
Pulau Sebatik merupakan salah satu wilayah terdepan dan terluar Indonesia yang berbatasan langsung dengan Malaysia. Keunikan geografisnya terletak pada pembagian wilayah satu pulau ke dalam dua negara. Bagian selatan berada di wilayah Indonesia, sedangkan bagian utara masuk dalam wilayah Malaysia.
Wilayah Sebatik bagian Indonesia memiliki luas sekitar 452,2 kilometer persegi, terdiri atas 19 desa yang tersebar di lima kecamatan, yakni Sebatik, Sebatik Barat, Sebatik Tengah, Sebatik Utara, dan Sebatik Timur. Dengan jumlah penduduk yang diperkirakan mencapai 72.500–82.500 jiwa, sebagian besar masyarakat menggantungkan hidup pada sektor perikanan, budi daya rumput laut, perkebunan, dan pertanian.
Selama bertahun-tahun, kondisi geografis dan keterbatasan akses transportasi membuat pemenuhan kebutuhan masyarakat di wilayah perbatasan menghadapi tantangan tersendiri. Kedekatan dengan Malaysia menjadikan aktivitas ekonomi lintas batas sebagai bagian dari keseharian warga, termasuk dalam memenuhi kebutuhan makanan, bahan bakar minyak (BBM), hingga gas elpiji.
Penggunaan mata uang rupiah dan ringgit dalam transaksi sehari-hari menjadi salah satu gambaran nyata hubungan ekonomi tersebut. Bagi sebagian masyarakat, produk dari Malaysia telah lama menjadi alternatif untuk memenuhi kebutuhan hidup, termasuk energi.
Namun, ketika harga BBM asal Malaysia meningkat dan pasokannya semakin terbatas, masyarakat mulai mencari alternatif yang lebih terjangkau. Di tengah perubahan tersebut, kehadiran Pertamina melalui program BBM Satu Harga dan penyediaan LPG menjadi salah satu upaya untuk memperkuat akses energi bagi masyarakat di beranda terdepan Indonesia.
Di Sebatik Barat, misalnya, SPBU 66.774.014 menjadi salah satu titik layanan yang mendukung pemenuhan kebutuhan BBM masyarakat, termasuk untuk menunjang aktivitas ekonomi nelayan.

SPBU 66.774.014 menjadi salah satu titik layanan yang mendukung pemenuhan kebutuhan BBM masyarakat, termasuk untuk menunjang aktivitas ekonomi nelayan, Sabtu (3/10/2026).Dari BBM Malaysia Beralih ke BBM Pertamina
Sore itu menjelang magrib, Juwardi, warga Muara Sungai, RT 7, Desa Binalawan, Kecamatan Sebatik Barat, datang ke SPBU dengan mengendarai sepeda motor. Ia membawa tiga jeriken berkapasitas masing-masing 33 liter untuk mengisi BBM jenis Pertalite.
Bagi Juwardi, BBM bukan sekadar bahan bakar. Ketersediaannya menentukan apakah ia dapat melaut, mengoperasikan mesin kapalnya, dan membawa pulang hasil tangkapan untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
Sebagai nelayan penangkap ikan dan udang yang beroperasi di sekitar perairan Sebatik dan Nunukan, Juwardi sangat bergantung pada pasokan BBM yang terjangkau. Kapalnya menggunakan dua mesin berbahan bakar minyak sehingga kebutuhan operasionalnya cukup besar.
Untuk memperoleh BBM bagi kegiatan melaut, nelayan dapat memanfaatkan mekanisme pembelian menggunakan surat rekomendasi dari instansi berwenang sesuai ketentuan yang berlaku. Dokumen pendukung, termasuk identitas pelaku usaha perikanan seperti Kartu Pelaku Usaha Kelautan dan Perikanan (KUSUKA), perlu disesuaikan dengan persyaratan yang ditetapkan.
Juwardi mengungkapkan, sebelum harga BBM Malaysia meningkat, dirinya dan nelayan lain terbiasa menggunakan BBM yang dikenal warga setempat sebagai BBM kuning. Namun, perubahan harga membuat pilihan tersebut semakin sulit dipertahankan.
“Dulu, waktu ringgit masih murah, kami biasa menggunakan BBM Malaysia atau BBM kuning. Namun, dengan kondisi sekarang, kami lebih memilih BBM Pertamina. Kami nelayan tangkap membutuhkan sekitar dua jeriken atau 60 liter sehari untuk kapal dengan dua mesin. Kalau satu jeriken harganya Rp300 ribu, berarti totalnya Rp600 ribu. Kalau hasil tangkapan hanya Rp1 juta, kami hanya mendapatkan capeknya saja,” ujarnya.
Menurut Juwardi, kenaikan harga BBM Malaysia membuat biaya melaut semakin membebani nelayan. Ia menyebut harga satu drum BBM kuning bahkan dapat mencapai Rp2,5 juta, sehingga dirinya dan sejumlah nelayan lain mulai beralih menggunakan Pertalite.

Juwardi, warga Muara Sungai, RT 7, Desa Binalawan, Kecamatan Sebatik Barat, datang ke SPBU dengan mengendarai sepeda motor untuk membeli pertalite sebagai bahan bakar kapalnya untuk melaut mencarui ikan, Sabtu (3/10/2026).
Kini, ia menyiapkan sekitar dua drum BBM untuk memenuhi kebutuhan melaut selama kurang lebih 10 hari. Dengan menggunakan BBM Pertamina, ia mengaku dapat memperoleh hasil usaha yang lebih menguntungkan.
“Saya biasanya menyiapkan dua drum untuk keperluan selama 10 hari mencari ikan. Satu drum kami beli sekitar Rp1,4 juta. Alhamdulillah, semenjak menggunakan Pertalite, sekali melaut saya bisa mendapatkan keuntungan lebih dari Rp5 juta,” tuturnya sambil tersenyum.
Bagi Juwardi, peralihan tersebut memberikan harapan baru. Biaya operasional yang lebih terkendali menjadi faktor penting agar aktivitas melaut tetap berjalan dan pendapatan keluarga dapat terjaga.
Pengalaman serupa dirasakan Agus Riyanto, nelayan sekaligus pembudi daya rumput laut di Sebatik. Ia mengaku memiliki surat rekomendasi untuk membeli Pertalite bersubsidi sebanyak 100 liter, yang digunakan untuk menunjang aktivitas usahanya selama sekitar 12 hari.
Selama ini, Agus terbiasa membeli BBM di toko-toko yang ada di Sebatik. Ia baru mengetahui bahwa kebutuhan BBM untuk kegiatan nonkendaraan, termasuk usaha perikanan, juga dapat dipenuhi melalui SPBU menggunakan surat rekomendasi.
“Kalau membeli, biasanya saya ke toko yang ada di Sebatik. Saya baru tahu kalau di SPBU juga bisa membeli BBM. Nanti saya akan membeli di SPBU saja. Biasanya saya membeli langsung lima jeriken. Kebutuhan BBM cukup banyak karena perahu untuk aktivitas rumput laut hampir tidak pernah berhenti beroperasi,” kata Agus.

Agus Riyanto, nelayan sekaligus pembudi daya rumput laut di Sebatik, Sabtu (3/10/2026).
Ia juga mengakui pernah menggunakan BBM kuning asal Malaysia. Namun, harga yang terus meningkat membuat biaya operasional semakin berat. Menurutnya, harga BBM tersebut kini telah menembus Rp23 ribu per liter.
“Mungkin karena perang di Timur Tengah, harga BBM kuning ikut naik. Karena itu, sejak tiga sampai empat tahun terakhir, kami lebih memilih menggunakan Pertalite. Selain harganya lebih terjangkau, penggunaan Pertalite juga lebih menguntungkan bagi kami yang bekerja sebagai nelayan dan pembudi daya rumput laut,” ujarnya.
Bagi Agus, ketersediaan BBM dengan harga yang lebih terjangkau menjadi salah satu penopang keberlangsungan usaha. Aktivitas budi daya rumput laut membutuhkan mobilitas perahu secara rutin, sehingga kepastian pasokan energi menjadi bagian penting dalam menjaga produktivitas.
Pertalite, Pilihan Hemat untuk Pelajar Perbatasan
Perubahan pilihan energi di Sebatik tidak hanya dirasakan oleh masyarakat yang menggantungkan hidup pada sektor perikanan. Kalangan pelajar pun merasakan dampak kenaikan harga BBM Malaysia.
Ardianti Umar, siswi MA As’adiyah Sungai Nyamuk, Sebatik, merupakan salah satu warga yang kini memilih Pertalite untuk mengisi bahan bakar sepeda motor yang digunakannya pergi ke sekolah.

Ardianti Umar (Paling Kanan, red), siswi MA As’adiyah Sungai Nyamuk, Sebatik saat berada di rumah perbatasan Indonesia – Malaysia, di Desa Aji Kuning, Nunukan, Kaltara, Sabtu (3/10/2026).
Sebelumnya, ketika harga BBM kuning masih relatif murah, ia terbiasa menggunakan bahan bakar tersebut. Namun, setelah harganya meningkat hingga sekitar Rp23 ribu per liter, Ardianti beralih menggunakan Pertalite yang menurutnya lebih ekonomis.
“Sejak harganya naik menjadi Rp23 ribu per liter, saya sudah tidak membeli BBM kuning lagi. Sekarang saya menggunakan Pertalite karena harganya hanya sekitar Rp10 ribu per liter,” ungkapnya saat ditemui ketika mengunjungi Rumah Perbatasan di Desa Aji Kuning, Kecamatan Sebatik Tengah, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara.
Selisih harga tersebut menjadi pertimbangan penting bagi Ardianti dalam mengatur pengeluaran sehari-hari. Bagi pelajar yang harus menempuh perjalanan ke sekolah, biaya bahan bakar merupakan salah satu kebutuhan rutin yang tidak dapat dihindari.
Pengalaman Ardianti memperlihatkan bahwa akses terhadap energi yang terjangkau tidak hanya berpengaruh pada kegiatan ekonomi, tetapi juga mendukung mobilitas masyarakat dalam menjalani aktivitas sehari-hari, termasuk pendidikan.
Pertamina Perkuat Pasokan Energi di Beranda Terdepan Indonesia
Sales Branch Manager Kalimantan Timur dan Utara (Kaltimut) V Fuel PT Pertamina Patra Niaga Regional Kalimantan, Nabilla Inanbarika Hartyana, menjelaskan bahwa Pulau Sebatik memiliki karakteristik geografis yang unik karena satu pulau terbagi ke dalam wilayah Indonesia dan Malaysia.
Kondisi tersebut membuat masyarakat setempat sejak lama terbiasa memanfaatkan komoditas dari kedua negara untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, termasuk BBM.
“Tidak bisa dipungkiri, masyarakat Sebatik juga menggunakan BBM Malaysia. Namun, dengan kehadiran SPBU di wilayah tersebut, kami memastikan layanan Pertamina juga tersedia bagi masyarakat. Dalam kondisi saat ini, ketika terjadi berbagai tantangan geopolitik dunia, Malaysia turut terdampak. Pasokan BBM yang sebelumnya banyak beredar kini semakin terbatas dan harganya juga cukup mahal,” jelas Nabilla.

Pengisian BBM jenis biosolar ke mobil tangki pertamina di Pos Lintas Batas Negara (PLBN), Pelabuhan Sei Nyamuk, Sebatik, Nunukan, Kaltara, Sabtu (3/10/2026).
Melihat kondisi tersebut, Pertamina terus berupaya memastikan kebutuhan BBM masyarakat Sebatik dapat dipenuhi melalui pasokan dari dalam negeri. Ketersediaan produk BBM di wilayah perbatasan menjadi bagian dari upaya memperluas akses energi bagi masyarakat, baik untuk kendaraan maupun kegiatan produktif.
Di Pulau Sebatik, produk BBM yang tersedia meliputi Pertalite dan Biosolar untuk jenis BBM bersubsidi, serta Pertamax sebagai BBM nonsubsidi.
Khusus untuk kebutuhan nonkendaraan, seperti aktivitas nelayan dan usaha perikanan, masyarakat dapat memperoleh BBM melalui SPBU dengan menggunakan surat rekomendasi yang diterbitkan instansi berwenang.
“Untuk BBM nonkendaraan, masyarakat bisa mendapatkannya menggunakan surat rekomendasi dari instansi setempat. Dengan surat tersebut, SPBU dapat melayani masyarakat sesuai jumlah yang tercantum dalam rekomendasi,” kata Nabilla.
Ia menjelaskan, penyaluran BBM melalui SPBU di Sebatik mencapai sekitar 90–100 kiloliter (KL) Pertalite dan 20–40 KL Biosolar setiap bulan. Sementara itu, volume penyaluran Pertamax bervariasi sesuai kebutuhan masyarakat. Adapun penyaluran melalui Pertashop mencapai sekitar 12 KL per bulan karena fasilitas tersebut hanya menyediakan BBM nonsubsidi.
Menurut Nabilla, kebutuhan BBM masyarakat Sebatik mengalami peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya. Hal tersebut terlihat dari data surat rekomendasi yang diterbitkan instansi terkait, khususnya untuk memenuhi kebutuhan sektor perikanan.
Untuk nelayan, misalnya, konsumsi BBM yang sebelumnya sekitar 50 KL kini meningkat menjadi 90–100 KL per bulan. Peningkatan tersebut sejalan dengan peralihan sebagian masyarakat dari BBM Malaysia ke produk Pertamina.
“Peningkatan ini mulai terlihat sejak April hingga Mei 2026, ketika Malaysia memperketat aturan subsidi BBM di tengah konflik di Timur Tengah. Pasokan BBM Malaysia yang biasa digunakan masyarakat menjadi lebih terbatas dan harganya meningkat. Kondisi tersebut mendorong masyarakat beralih ke produk Pertamina, terutama Pertalite,” paparnya.

Sales Branch Manager Kalimantan Timur dan Utara (Kaltimut) V Fuel PT Pertamina Patra Niaga Regional Kalimantan, Nabilla Inanbarika Hartyana, Jumat (2/10/2026).
Peningkatan penyaluran tersebut menjadi gambaran perubahan pola konsumsi energi masyarakat perbatasan. Ketersediaan BBM dengan harga yang lebih terjangkau membantu nelayan mengendalikan biaya operasional, mendukung aktivitas pembudi daya rumput laut, serta mengurangi beban pengeluaran transportasi masyarakat.
Bagi Pertamina, tantangan di Sebatik bukan hanya memastikan pasokan BBM tersedia, tetapi juga menghadirkan akses energi yang dapat dijangkau masyarakat di wilayah perbatasan.
80 persen penyaluran menggunakan multimoda
PT Pertamina Patra Niaga Regional Kalimantan sendiri mengandalkan sistem distribusi multimoda untuk memastikan pasokan bahan bakar minyak (BBM) menjangkau wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) hingga kawasan pedalaman Kalimantan.
Melalui Fuel Terminal (FT) Tarakan, Pertamina menyalurkan BBM untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di Kota Tarakan, Kabupaten Bulungan, Tana Tidung, Malinau, Nunukan, hingga Kabupaten Berau, Kalimantan Timur.
Manager Fuel Terminal Tarakan PT Pertamina Patra Niaga, Hario Somapangestu, mengatakan volume distribusi BBM dari terminal tersebut berada pada kisaran 1.400 hingga 2.000 kiloliter (KL) per hari.
“Untuk distribusinya per hari kisarannya dari 1.400 KL hingga 2.000 KL,” ujar Hario.
Besarnya volume tersebut harus disalurkan melalui kondisi geografis yang tidak seragam. Karena itu, Pertamina tidak hanya mengandalkan transportasi darat, tetapi mengombinasikan kapal, angkutan sungai, kendaraan darat hingga pesawat udara.
Hario mengatakan sekitar 80 persen penyaluran dari FT Tarakan menggunakan multimoda dengan dominasi moda laut.
“Keunikannya dari FT Tarakan ini, sekitar 80 persen penyaluran itu multimoda, menggunakan moda laut,” katanya.
Pasokan dari Tarakan dikirim menggunakan kapal SPOB. Setibanya di wilayah tertentu, BBM dapat dipindahkan kembali ke sarana angkutan yang lebih kecil seperti longboat maupun kendaraan double cabin untuk menjangkau titik penyaluran.

Kapal SPBO Pertamina saat sandar di di Pos Lintas Batas Negara (PLBN), Pelabuhan Sei Nyamuk, Sebatik, Nunukan, Kaltara, Sabtu (3/10/2026).
Selain distribusi reguler, pasokan BBM juga didatangkan dari Balikpapan menggunakan kapal. Dalam satu kali kedatangan, volume pasokan dapat mencapai 5.000 hingga 7.000 KL untuk seluruh produk, antara lain Pertalite, Pertamax, dan Biosolar.
Skema multimoda tersebut menjadi penting untuk menjaga pasokan BBM di wilayah perbatasan Nunukan, termasuk Pulau Sebatik. Menurut Hario, pengiriman BBM dari Tarakan menuju Sebatik membutuhkan waktu sekitar satu hingga dua hari, bergantung pada kondisi cuaca.
“Untuk dari Tarakan hingga ke Sebatik itu kisaran satu sampai dua hari, bergantung dengan cuacanya,” kata Hario.

Manager Fuel Terminal Tarakan PT Pertamina Patra Niaga, Hario Somapangestu, Jumat (2/10/2026).
Sementara untuk wilayah yang aksesnya jauh lebih sulit seperti Kecamatan Krayan, Kabupaten Nunukan, Pertamina menggunakan moda udara. Pengiriman BBM ke Krayan dilakukan menggunakan pesawat Air Tractor AT-802 yang mampu membawa hingga 4.000 liter Pertalite atau 3.000 liter Biosolar dalam sekali penerbangan. Frekuensi penerbangan dapat mencapai tiga kali sehari.
Dengan kapasitas tersebut, kemampuan angkut maksimal secara teoritis mencapai sekitar 12 KL Pertalite atau 9 KL Biosolar per hari, apabila seluruh penerbangan menggunakan kapasitas penuh dan jenis produk yang sama.
Pertamina juga kembali memastikan distribusi BBM Satu Harga ke Krayan berjalan setelah insiden pesawat kargo pada Februari 2026. Pada 21 Februari 2026, pengiriman Pertalite ke SPBU 3T Krayan kembali dilakukan menggunakan Air Tractor AT-802.
Skema udara ini menjadi salah satu bentuk adaptasi Pertamina terhadap kondisi geografis Krayan yang sulit dijangkau melalui jalur darat maupun laut.
Strategi Hadapi Medan Pedalaman
Hario mengatakan tantangan distribusi BBM di Kalimantan tidak hanya berasal dari jarak, tetapi juga kondisi laut, sungai, pasang surut hingga kualitas infrastruktur jalan.
“Memang tantangannya dari laut, gelombang laut yang lumayan. Kemudian di sungai-sungai juga sering terjadi pasang surut, kemudian di jalan-jalan Kalimantan juga masih banyak yang belum baik,” ujarnya.
Karena itu, Pertamina melakukan perencanaan distribusi dengan memperhitungkan waktu tempuh dan berbagai kemungkinan gangguan perjalanan.
“Kami sudah harus bisa menghitung berapa lama BBM dari Tarakan berjalan hingga ke lokasi tujuan dengan berbagai macam kendala, sehingga BBM itu tidak sampai kritis di masyarakat,” kata Hario.
Kapal Kecil Jadi Solusi ke Pedalaman Berau
Strategi serupa diterapkan untuk menjaga pasokan BBM ke Kabupaten Berau, Kalimantan Timur.
Pertamina memiliki terminal swasta di kawasan Sungai Segah, Berau. Namun, kondisi sungai menjadi tantangan tersendiri karena dipengaruhi pasang surut dan aktivitas kapal angkutan batu bara.
Saat air surut, kapal berukuran besar dapat mengalami kesulitan memasuki alur sungai, terutama ketika terdapat kapal batu bara yang kandas.
“Ketika surut, suplai kami kadang terkendala tidak bisa masuk alur sungai karena kapal batu bara yang kandas,” ujar Hario.
Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, Pertamina menyiapkan Alternative Emergency BBM (AE BBM) dari FT Tarakan menggunakan SPOB berukuran lebih kecil.

Pertamina menyiapkan Alternative Emergency BBM (AE BBM) dari FT Tarakan menggunakan SPOB berukuran lebih kecil, Sabtu (3/10/2026).
Kapal yang lebih kecil memungkinkan distribusi tetap dilakukan ketika kapal berukuran besar tidak dapat melewati alur sungai.
“Ketika suplai terkendala, kami mendatangkan AE BBM dari FT Tarakan menggunakan SPOB yang lebih kecil. Jadi ketika SPOB lebih kecil, dia tetap bisa masuk alur sungai,” kata Hario.
Menurut Hario, pola tersebut menjadi bagian dari mitigasi untuk menjaga kebutuhan BBM masyarakat Berau tetap terpenuhi. Dari Tarakan, Pertamina dengan demikian tidak menggunakan satu pola distribusi untuk seluruh wilayah.
Kapal SPOB digunakan untuk jalur laut, longboat dan kendaraan untuk menjangkau titik yang lebih sulit, pesawat digunakan untuk wilayah 3T seperti Krayan, sementara SPOB berukuran lebih kecil disiapkan sebagai solusi darurat untuk menembus alur sungai di pedalaman Berau.
“Suplainya terus bergulir secara rutin dari suplai utama kami di Balikpapan. Kami pantau terus, monitor terus supaya itu tetap berjalan dengan baik,” ujar Hario.
Ribuan Tabung Gas Melon Menyeberangi Laut
Perjuangan menjaga kedaulatan energi di Sebatik tidak berhenti pada BBM. Kebutuhan gas untuk memasak juga menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat perbatasan.
Selama bertahun-tahun, sebagian warga terbiasa menggunakan tabung gas Malaysia berukuran 14 kilogram atau lebih besar. Kini, LPG 3 kilogram bersubsidi serta produk nonsubsidi Pertamina, seperti Bright Gas 5,5 kilogram dan 12 kilogram, menjadi pilihan yang semakin dikenal masyarakat.
Perubahan itu terlihat di Pos Lintas Batas Negara (PLBN), Pelabuhan Sei Nyamuk, Pulau Sebatik, Kabupaten Nunukan.
Pada Sabtu, (3/10/2026), KM Mutiara Indah perlahan merapat ke pelabuhan. Kapal kayu tersebut membawa ribuan tabung LPG 3 kilogram atau yang akrab disebut gas melon.

KM Mutiara Indah perlahan merapat ke pelabuhan di Pos Lintas Batas Negara (PLBN), Pelabuhan Sei Nyamuk, Pulau Sebatik, Kabupaten Nunukan, Sabtu (3/10/2026).
Begitu kapal mendekati dermaga, para awak melemparkan tali tambat. Petugas pelabuhan segera menyambutnya dan mengikat tali pada bolder. Setelah kapal terikat dengan aman, proses bongkar muat dimulai.
Para pekerja bergerak cekatan memindahkan tabung-tabung gas dari lambung kapal ke daratan. Satu demi satu tabung berpindah tangan, sebelum disusun rapi di bak truk pengangkut untuk dibawa menuju pangkalan.
Di balik kegiatan yang tampak rutin tersebut, tersimpan perjuangan panjang untuk memastikan kebutuhan energi masyarakat perbatasan tetap terpenuhi.
Nahkoda KM Mutiara Indah, Samsir, (54) tahun, bersama lima anak buah kapal (ABK), telah mengawal distribusi LPG selama delapan tahun. Mereka menghadapi tantangan cuaca dan gelombang laut demi memastikan tabung gas tiba dengan selamat.
“Hari ini, Sabtu (3/10/2026), sebanyak 5.200 tabung kami angkut. Dalam sebulan, kami bisa melakukan pengangkutan empat sampai lima kali bolak-balik Tarakan–Sebatik,” kata Samsir.
Menurutnya, cuaca menjadi kendala utama selama perjalanan. Gelombang tinggi dan perubahan kondisi laut terkadang memaksa kapal mencari tempat berlindung hingga perjalanan tertunda berhari-hari.
“Kami harus memperhitungkan perjalanan dengan tepat agar selamat tiba di tujuan dan juga tepat waktu. Kalau cuaca sudah buruk di laut lepas, kami harus pintar menentukan pilihan atau membaca keadaan. Bahkan, kadang-kadang harus segera mencari tempat perlindungan. Perjalanan bisa tertahan hingga tiga malam,” tuturnya.
Perjalanan Samsir dan awak kapal menjadi bagian penting dari rantai distribusi energi nasional. Tanpa transportasi laut yang beroperasi secara teratur, pasokan LPG untuk masyarakat di pulau perbatasan akan menghadapi tantangan yang lebih besar.

Tenaga kerja pelabuhan saat memindahkan ribuan tabung gas melon dari kapal ke truk pengangkut di di Pos Lintas Batas Negara (PLBN), Pelabuhan Sei Nyamuk, Pulau Sebatik, Kabupaten Nunukan, Sabtu (3/10/2026).
Sales Branch Manager (SBM) Kaltimut VIII Gas Pertamina Patra Niaga, Reza Pengestu mengatakan, Pelabuhan Pos PLBN Sei Nyamuk merupakan salah satu lokasi resmi bongkar muat BBM dan LPG Pertamina untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Sebatik.
Khusus LPG 3 kilogram, penyaluran untuk Pulau Sebatik mencapai sekitar 28 ribu–29 ribu tabung per bulan, dengan pengiriman sebanyak empat kali dalam periode distribusi.
“Penyaluran gas elpiji ke Pulau Sebatik yang berbatasan langsung dengan Malaysia ini merupakan bukti komitmen Pertamina untuk mendistribusikan energi ke kawasan 3T, yakni tertinggal, terdepan, dan terluar,” ujar Reza.
Ia menegaskan bahwa distribusi energi hingga kawasan perbatasan merupakan mandat nasional yang harus dijalankan agar masyarakat memperoleh akses terhadap energi dari dalam negeri.
Menembus Keterbatasan dengan Distribusi Multimoda
Tantangan distribusi energi di Sebatik tidak hanya terletak pada jarak, tetapi juga kondisi geografis yang menuntut pola pengangkutan berbeda.
Energi harus dikirim melalui jalur darat, menyeberangi laut, kemudian kembali diangkut melalui jalur darat hingga tiba di pangkalan dan dapat digunakan masyarakat. Setiap tahapan membutuhkan koordinasi agar pasokan tetap terjaga.
Foto 14
Sales Branch Manager (SBM) Kaltimut VIII Gas Pertamina Patra Niaga, Reza Pengestu, Sabtu (3/10/2026).
Pertamina menerapkan sistem distribusi multimoda untuk menjangkau berbagai wilayah di Kabupaten Nunukan, termasuk kawasan yang sulit diakses melalui jalur transportasi biasa.
“Di Sebatik, tidak hanya terdapat produk gas Pertamina, tetapi juga produk gas Malaysia yang sudah lama beredar. Ini menjadi tantangan bagi kami. Namun, Pertamina tetap berkomitmen memastikan produk nasional, khususnya LPG, selalu tersedia di perbatasan,” kata Reza.
Ia menjelaskan, distribusi dilakukan melalui kombinasi transportasi darat dan laut. Sementara untuk menjangkau kawasan tertentu di Kecamatan Krayan, Kabupaten Nunukan, BBM diangkut menggunakan pesawat Sky Truck.
Pola distribusi tersebut memperlihatkan bahwa pemerataan energi di wilayah perbatasan membutuhkan lebih dari sekadar ketersediaan produk. Dibutuhkan jaringan distribusi yang mampu menyesuaikan diri dengan kondisi geografis, akses transportasi, cuaca, dan kebutuhan masyarakat.
Setelah proses bongkar muat di Sei Nyamuk selesai, truk agen LPG 3 kilogram bersubsidi milik PT Sebatik Island Flowers kembali bergerak. Ratusan tabung gas melon diangkut menuju pangkalan-pangkalan untuk memenuhi kebutuhan warga.
Salah satunya adalah Pangkalan LPG 3 Kilogram Muhammad Khaidir di Jalan Ahmad Yani, RT 04, Desa Sungai Pancang, Kecamatan Sebatik Utara.
Foto15
PT Sebatik Island Flowers, distribusi LPG di wilayah perbatasan menyalurkan gas Pangkalan LPG 3 Kilogram Muhammad Khaidir di Jalan Ahmad Yani, RT 04, Desa Sungai Pancang, Kecamatan Sebatik Utara, Sabtu (3/10/2026).
Di tempat inilah perjalanan panjang gas melon dari Tarakan berlanjut ke rumah-rumah warga, menjadi sumber energi untuk memasak dan memenuhi kebutuhan keluarga.
Nasionalisme di Balik Perjuangan Agen LPG
Bagi H. Abdullah, pemilik PT Sebatik Island Flowers, distribusi LPG di wilayah perbatasan bukan semata-mata urusan perdagangan. Ada tanggung jawab yang lebih besar: memastikan masyarakat tetap memiliki akses terhadap energi nasional dengan harga terjangkau.
Abdullah merupakan agen LPG 3 kilogram pertama yang ditunjuk untuk melayani wilayah tersebut sejak Desember 2014. Ia masih mengingat bagaimana usahanya dimulai dengan pasokan yang sangat terbatas.
“Saya mulai merintis pendistribusian LPG 3 kilogram ini dengan dua LO (Loading Order) atau sekitar 1.120 tabung sebagai perkenalan. Namun, seiring meningkatnya kepercayaan masyarakat yang enggan berpaling ke negeri tetangga, pasokannya meningkat menjadi 114 LO atau sekitar 63.000 tabung per bulan,” ujarnya.
Kini, perusahaannya melayani 46 pangkalan yang tersebar di Pulau Sebatik dan daratan Kabupaten Nunukan.
Foto16
- Abdullah, pemilik PT Sebatik Island Flowers, distribusi LPG di wilayah perbatasan, Sabtu (3/10/2026).
Di tengah persaingan dengan produk gas Malaysia, Abdullah mengaku berkomitmen menjaga keterjangkauan harga LPG bersubsidi sesuai ketentuan yang berlaku. Berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Kalimantan Utara Nomor 100.3.3.1/18/2025 yang disebutkannya, harga eceran tertinggi LPG 3 kilogram ditetapkan sebesar Rp30 ribu per tabung.
Ia juga menyatakan tidak lagi menjual tabung gas Malaysia.
“Di perbatasan ini, kita harus menjaga harga. Kalau harga eceran naik di atas Rp30 ribu, masyarakat bisa berpaling lagi ke tabung gas Malaysia karena perhitungan harganya lebih murah. Ini bukan masalah bisnis semata, tetapi menyangkut harga diri bangsa bahwa Pertamina hadir menjaga ketahanan energi hingga tapal batas Indonesia,” tegas Abdullah.
Baginya, menjaga harga bukan hanya soal mempertahankan pelanggan, melainkan juga menjaga kepercayaan masyarakat terhadap produk nasional.
Abdullah berharap ada langkah yang memudahkan masyarakat beralih dari tabung gas Malaysia berukuran 14 kilogram ke produk Pertamina, misalnya melalui program konversi ke Bright Gas. Dengan demikian, masyarakat tidak harus terbebani biaya pembelian tabung baru yang menurutnya dapat mencapai Rp900 ribu.
Harapan itu menunjukkan bahwa penguatan kedaulatan energi tidak cukup dilakukan dengan mendatangkan produk dalam negeri. Masyarakat juga membutuhkan pilihan yang terjangkau, praktis, dan sesuai dengan kemampuan ekonomi mereka.
Gas Melon Mengubah Kehidupan Rumah Tangga
Perubahan pilihan energi juga dirasakan Muhammad Khaidir, pemilik pangkalan LPG 3 kilogram di Desa Sungai Pancang.
Ia masih mengingat masa ketika tabung gas Malaysia menjadi pilihan utama masyarakat. Ukurannya yang besar dan berat kerap menyulitkan warga, terutama ibu rumah tangga.
“Saya masih ingat bagaimana waktu itu ibu-ibu kalau membeli tabung gas Malaysia terpaksa harus memanggil suaminya untuk mengangkat tabung gas ke rumah,” kenangnya.
Pembelian gas juga bergantung pada nilai tukar ringgit. Ketika kurs naik, harga yang harus dibayar masyarakat ikut meningkat dan membebani pengeluaran keluarga.
“Untuk membelinya juga menggunakan ringgit. Kalau kurs naik, harganya ikut naik dan cukup menguras kantong. Berat lagi untuk diangkat ibu rumah tangga. Mau bagaimana lagi, dulu tidak ada pilihan,” ujarnya.
Kini, pangkalannya menerima pengiriman LPG empat kali dalam sebulan, dengan sekitar 180 tabung pada setiap pengiriman. Pangkalan tersebut melayani empat RT, yakni RT 04, RT 05, RT 06, dan RT 07.
Foto17
Muhammad Khaidir, pemilik pangkalan LPG 3 kilogram di Desa Sungai Pancang, Sebatik, Nunukan, Kaltara, Sabtu (3/10/2026).
Warga yang membeli LPG bersubsidi diwajibkan membawa Kartu Keluarga (KK) untuk proses pemeriksaan melalui sistem yang digunakan dalam penyaluran LPG bersubsidi.
“Tabung gas melon ini sangat disenangi warga karena ukurannya kecil, ringan, mudah diangkat dengan satu tangan, dan yang paling penting dibeli menggunakan rupiah,” kata Khaidir.
Di tengah kesibukan bongkar muat tabung gas, seorang perempuan terlihat berjalan menuju pangkalan. Ia mengenakan daster cokelat tua, kain kulot juga coklat muda, menggunakan masker, dan sandal jepit. Di tangannya terdapat uang rupiah serta Kartu Keluarga.
Perempuan itu adalah Nurbaya, warga RT 04, Desa Sungai Pancang. Ia datang untuk membeli satu tabung LPG 3 kilogram seharga Rp30 ribu.
Bagi Nurbaya, tabung kecil itu menyimpan cerita panjang tentang perubahan cara keluarganya memenuhi kebutuhan sehari-hari. Ia pernah menggunakan kayu bakar, kemudian beralih ke tabung gas Malaysia, hingga akhirnya menggunakan LPG 3 kilogram dari Pertamina.
“Satu tabung 3 kilogram ini cukup untuk menghidupkan kompor buat memasak selama sepekan. Syaratnya hanya satu, membawa Kartu Keluarga,” ujarnya.
Ia tidak menampik pernah menggunakan tabung gas Malaysia sebelum LPG Pertamina tersedia.
“Dulu saya juga pernah memakai tabung gas Malaysia. Sekarang menggunakan LPG 3 kilogram, harganya jauh lebih murah dan hemat. Kita sangat bersyukur sudah ada gas melon di sini,” katanya.
Menurut Nurbaya, tabung gas Malaysia berukuran 14 kilogram yang biasa beredar di Sebatik kini dijual dengan harga eceran sekitar Rp300 ribu per tabung. Sebelumnya, harga yang diketahuinya berkisar Rp200 ribu hingga Rp280 ribu.
Foto18
Nurbaya, warga RT 04, Desa Sungai Pancang, Sebatik, Nunukan, Kaltara saat membeli gas melon 3Kg di pangkalan, Sabtu (3/10/2026).
Harga yang harus dibayar masyarakat Sebatik tidak selalu sama dengan harga resmi di Malaysia. Biaya pengangkutan, distribusi, dan rantai pasokan lintas batas turut memengaruhi harga eceran yang diterima konsumen.
Kehadiran LPG 3 kilogram membuat Nurbaya memiliki pilihan yang lebih terjangkau untuk memenuhi kebutuhan dapurnya. Ia tidak lagi harus bergantung pada tabung gas dari negara tetangga untuk memasak bagi keluarga.
Di tangannya, satu tabung gas melon bukan sekadar barang kebutuhan rumah tangga. Tabung itu menjadi gambaran sederhana tentang bagaimana akses energi dapat mengubah kehidupan masyarakat perbatasan.
Kedaulatan Energi Dimulai dari Kebutuhan Rakyat
Pulau Sebatik menyimpan pelajaran penting tentang hubungan antara energi, ekonomi, dan nasionalisme.
Selama bertahun-tahun, kedekatan geografis dengan Malaysia membuat masyarakat terbiasa menggunakan berbagai produk dari negara tetangga. Ketika harga meningkat dan ketersediaan berubah, masyarakat kembali dihadapkan pada pilihan yang menentukan keberlangsungan hidup mereka.
Kisah Juwardi yang mengandalkan Pertalite untuk melaut, Agus yang berusaha menjaga biaya operasional usaha rumput laut, Ardianti yang membutuhkan BBM untuk pergi ke sekolah, hingga Nurbaya yang memasak menggunakan gas melon memperlihatkan bahwa energi hadir dalam hampir setiap aspek kehidupan.
Di balik itu, ada Samsir dan awak KM Mutiara Indah yang menghadapi gelombang laut, para pekerja bongkar muat yang memindahkan ribuan tabung, agen yang menjaga pasokan, serta pemilik pangkalan yang melayani kebutuhan masyarakat.
Mereka adalah bagian dari mata rantai panjang yang memastikan energi nasional dapat menjangkau masyarakat hingga ke wilayah terluar Indonesia.
Program BBM Satu Harga dan distribusi LPG bersubsidi menjadi instrumen penting dalam upaya tersebut. Namun, keberlanjutannya tetap membutuhkan kepastian pasokan, keterjangkauan harga, pengawasan distribusi, serta pelayanan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
Foto19
Tugas utama Fuel Terminal Tarakan (PT Pertamina Patra Niaga) adalah menerima, menyimpan, serta mendistribusikan Bahan Bakar Minyak (BBM) secara aman, handal, dan tepat waktu untuk wilayah Kota Tarakan dan sekitarnya di Provinsi Kalimantan Utara, termasuk mendukung wilayah Malinau, Tana Tidung, Nunukan, dan Pulau Sebatik, Jumat (2/10/2026).
Sebab, kedaulatan energi tidak hanya diukur dari banyaknya bahan bakar dan gas yang berhasil dikirim ke perbatasan. Kedaulatan itu juga tercermin dari kemampuan masyarakat memperoleh energi secara aman, terjangkau, dan berkelanjutan tanpa harus selalu bergantung pada pasokan dari negara lain.
Di Sebatik, Garuda tetap berada di dada. Sementara itu, melalui akses energi yang semakin kuat, masyarakat memiliki lebih banyak pilihan untuk memenuhi kebutuhan hidup dari dalam negeri.
Di pulau yang berbagi daratan dengan dua negara itu, perjuangan mempertahankan kedaulatan tidak selalu berlangsung di medan pertempuran. Terkadang, perjuangan tersebut hadir dalam satu jeriken Pertalite yang dibawa nelayan ke SPBU, dalam ribuan tabung gas yang menyeberangi laut, atau dalam satu tabung gas melon yang dibawa pulang seorang ibu untuk memasak bagi keluarganya.
Dari situlah perlawanan melalui energi menemukan maknanya: memastikan kehadiran negara benar-benar dirasakan masyarakat, hingga ke ujung perbatasan Republik Indonesia.
BACA JUGA
