Karhutla 5 Hektare di Kutai Barat Dipadamkan 8 Jam
KUTAI BARAT, Gerbangkaltim.com – Karhutla di Kutai Barat melanda area perkebunan milik PT Lonsum di Desa Gelora, Kecamatan Jempang, Sabtu (5/9/2026). Kebakaran yang menghanguskan lahan sekitar 5 hektare tersebut berhasil dikendalikan setelah prajurit Brigif TP 85/BTC bersama tim gabungan melakukan pemadaman selama kurang lebih delapan jam.
Kebakaran diketahui terjadi sekitar pukul 11.15 WITA. Api kemudian dengan cepat membesar dan merambat di area lahan terbuka yang disebut memiliki lapisan gambut. Kondisi cuaca serta hembusan angin di sekitar lokasi turut membuat proses pengendalian api menjadi lebih menantang.
Situasi tersebut mendorong tim penanggulangan kebakaran bersama personel Brigif TP 85/BTC segera bergerak menuju lokasi. Pemadaman dilakukan untuk melokalisir kobaran sekaligus mencegah api menjalar ke area perkebunan maupun kawasan di sekitarnya.
Medan yang terbuka dan karakteristik lahan yang terbakar membuat petugas harus bekerja cukup lama. Api tidak cukup hanya dikendalikan pada bagian permukaan, sehingga personel perlu memastikan area yang terbakar benar-benar aman dan tidak menyisakan potensi munculnya kembali titik api.
Selama proses penanganan, prajurit Brigif TP 85/BTC bersinergi dengan tim gabungan di lapangan. Upaya tersebut dilakukan secara terus-menerus hingga kobaran api berhasil dikendalikan.
Pemadaman berlangsung sekitar delapan jam sejak tim mulai melakukan penanganan. Setelah melalui proses pelokalisiran dan pemadaman, api akhirnya dinyatakan padam sepenuhnya pada pukul 19.15 WITA.
Keberhasilan tersebut tidak lepas dari respons cepat personel yang langsung diterjunkan setelah kebakaran diketahui. Koordinasi di lapangan menjadi bagian penting dalam mencegah kobaran api berkembang lebih luas.
Kebakaran di area perkebunan PT Lonsum ini menjadi perhatian karena luas lahan yang terdampak mencapai sekitar 5 hektare. Selain berpotensi menimbulkan kerusakan pada lahan perkebunan, kebakaran di area terbuka juga dapat menimbulkan asap dan mengganggu lingkungan apabila tidak segera dikendalikan.
Kondisi angin menjadi salah satu tantangan dalam penanganan. Pergerakan api di lahan terbuka dapat berubah mengikuti arah angin sehingga petugas harus melakukan pengendalian secara cermat untuk memastikan api tidak kembali merambat.
Setelah pemadaman selesai, keberadaan personel di lapangan menjadi bagian penting untuk memastikan kondisi area benar-benar aman. Pemantauan diperlukan terutama pada kawasan yang memiliki material mudah terbakar dan berpotensi menyimpan bara.
Penanganan kebakaran tersebut menunjukkan pentingnya kesiapsiagaan dan kerja sama antarpersonel dalam menghadapi karhutla. Respons yang cepat dan pemadaman secara berkelanjutan menjadi langkah penting untuk menekan risiko kebakaran meluas.
Bagi masyarakat di sekitar kawasan perkebunan, keberhasilan pengendalian api juga menjadi kabar penting. Kobaran yang sempat meluas akhirnya dapat dihentikan sebelum berkembang menjadi kebakaran yang lebih besar.
Sumber: Brigif TP 85/BTC.
BACA JUGA
